Lari Dari Kehidupan Metropolitan, Menuju Alam Bebas

Liburan panjang akhir tahun ajaran sudah berlangsung. Merencanakan sebuah liburan yang bermanfaat dan menyenangkan adalah rencana dari hampir sebagian besar para siswa-siswi dari Sabang sampai Merauke.

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan mal dan pusat perbelanjaan modern lainnya, yang begitu menjamur, seringkali menggiurkan untuk dikunjungi dibandingkan dengan pergi ke tempat wisata yang lainnya. Berbagai hiburan pun ditawarkan, mulai dari tempat nonton, nongkrong, belanja hingga makan. Lengkap sudah untuk membuat kaum muda tidak beranjak dari tempat tersebut.

Namun sebenarnya, ada satu hal lain yang patut untuk dicoba kaum muda yang ingin mencari sesuatu yang baru yang tidak terdapat di tengah hiruk-pikuknya kota metropolitan. Pergi menyusuri alam, menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Penulis dan teman-temannya merencanakan untuk pergi mendaki Gunung Gede pada tanggal 22-23 Juni 2009. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 16 orang. Pendakian dimulai sekitar pukul 07.00 melewati rute Cibodas yang berarti melewati Telaga Biru-Panyancangan-Air Panas-Kandang Batu-Kandang Badak, dan kemudian berlanjut menuju puncak Gunung Gede. Puncak berhasil dicapai sekitar pukul 16.30. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Alun-Alun Surya Kencana yang berhasil dicapai sekitar pukul 21.00. Setelah bermalam disana, akhirnya penulis beserta teman-temannya turun melewati jalur Gunung Putri.

Tiada kata yang patut untuk diungkapkan kecuali terima kasih kepada Tuhan karena bisa menciptakan alam yang begitu indah dan juga kepada seluruh tim pendakian yang bisa terus bekerja sama. Hanya sekumpulan gambar inilah yang patut untuk diperlihatkan, menunjukkan bahwa setidaknya masih ada hal yang jauh lebih baik daripada padatnya kota metropolitan dengan segudang hiruk-pikuk nya.

Tim Pendakian Gunung Gede
Tim Pendakian Gunung Gede
Telaga Biru
Telaga Biru
Kawah Gunung Gede
Kawah Gunung Gede
Kawah Gunung Gede
Kawah Gunung Gede
Kawah Gunung Gede
Kawah Gunung Gede
Gumpalan Awan Dari Puncak Gunung Gede
Gumpalan Awan Dari Puncak Gunung Gede
Gunung Pangrango Diantara Awan
Gunung Pangrango Diantara Awan
Tim Pendakian di Alun-Alun Surya Kencana
Tim Pendakian di Alun-Alun Surya Kencana

Lingkungan Hidup, Masalah Yang Terabaikan

Penempatan bidang lingkungan hidup dalam tataran kehidupan berpolitik di Indonesia terlihat masih sangat minim. Hal ini dapat terlihat jelas dari visi-misi yang dipaparkan oleh para capres, serta ketiadaan topik mengenai lingkungan hidup ini dalam debat capres.

Ketidakpopuleran isu mengenai lingkungan hidup menjadi tanda bahwa ada suatu tendensi untuk menempatkan bidang lingkungan hidup di bawah bidang-bidang lainnya. Hal ini dapat terjadi karena permasalahan di bidang ekonomi serta pertahanan dan keamanan, yang akhir-akhir ini terus terjadi, telah menyita perhatian para capres dan kemudian seolah-olah mengenyampingkan permasalahan di bidang lainnya, termasuk permasalahan di bidang lingkungan hidup. Jika hal ini kemudian terus berlanjut tanpa adanya perhatian yang layak, bukan tidak mungkin permasalahan di bidang lingkungan hidup ini akan menjadi akar masalah yang akan merembet ke bidang-bidang lainnya.

Agenda Besar

Satu bulan berlalu setelah World Ocean Conference (WOC) berhasil di selenggarakan pada tanggal 11-15 Mei 2009 di Sulawesi Utara. Hampir dua tahun berlalu setelah United Nations For Climate Change Conference (UNFCCC) diadakan di Bali pada Desember 2007. Momentum ini cukup untuk menunjukkan bahwa Indonesia berperan penting dan dapat dipercaya dalam skala global untuk turut serta dalam menanggulangi masalah pemanasan global yang merupakan ekses dari krisis lingkungan hidup.

Namun, momentum ini tidak serta-merta membuat para capres untuk  kemudian menitikberatkan perhatian mereka pada masalah lingkungan hidup. Padahal, siapapun  mereka yang terpilih nanti harus segera melaksanakan beberapa agenda besar di bidang lingkungan hidup.

Pertama, agenda untuk Protokol Kyoto. Protokol Kyoto akan segera pensiun di tahun 2012, sebuah masa dimana calon terpilih masih sedang memimpin Indonesia. Pemimpin terpilih tentunya harus segera menentukan langkah-langkah apa yang harus dibuat Indonesia dalam skala global dalam menanggulangi permasalahan lingkungan hidup.

Kedua, pemerintah Indonesia nantinya harus terus berjuang melawan keganasan perubahan iklim yang akan juga memberikan dampak pada sektor agraria. Perubahan iklim yang terjadi telah banyak menyusahkan para petani yang penanaman padinya bergantung pada keadaan musim di Indonesia. Sedikit saja perubahan musim, maka akan sangat menyulitkan bagi para petani untuk beradaptasi dengan kondisi  yang baru. Hal ini juga kemudian harus ditambah dengan munculnya bencana kekeringan serta ketersediaan air yang sangat minim untuk sistem irigasi.

Ketiga, permasalahan dengan laju deforestasi hutan di Indonesia yang ditengarai mencapai angka lima kali luas lapangan sepak bola setiap menitnya. Masalah ini, jika tidak ditangani lebih lanjut, akan berujung pada rusaknya keanekaragaman hayati di Indonesia dan mengakibatkan terlepasnya berjuta-juta ton karbon dioksida ke udara dan turut menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang gas rumah kaca terbesar dari sektor kerusakan hutannya.

Pemerintah Indonesia juga seyogyanya memerhatikan izin yang dikeluarkan berkaitan dengan pembukaan hutan untuk pertambangan maupun untuk lahan perkebunan sawit. Pemberian izin yang sembarangan dan tanpa pengawasan yang jelas dalam pelaksanaannya, hanya akan membuat pemerintah Indonesia turut mendukung dalam meningkatkan laju deforestasi hutan di negerinya sendiri.

Keempat, agenda untuk mencegah dan menanggulangi bencana-bencana alam yang terjadi akibat ekses dari krisis lingkungan hidup. Banjir sebagai masalah tahunan yang terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia serta bencana lumpur Lapido harus segera diselesaikan.

Kelima, agenda dalam permasalahan carbon trading. Pasar karbon, sebagai salah satu wacana yang diajukan dalam Protokol Kyoto, sudah seyogyanya diterapkan di Indonesia. Mekanisme-mekanisme yang berlaku pun sudah sepatutnya untuk diputuskan. Dengan begitu, Indonesia yang memiliki potensi besar dalam perdagangan karbon bisa mengambil keuntungan yang cukup besar baik dalam segi ekonomi karena menambah pendapatan negara, maupun dari segi lingkungan hidup karena juga turut serta dalam menjaga kelestarian hutannya.

Keenam, mengenai pembangunan berwawasan lingkungan. Pembangunan, terutama di kota-kota besar, seringkali mengenyampingkan keberadaan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, target Ruang Terbuka Hijau untuk sebuah kota besar yang idealnya sebesar tiga puluh persen praktis tidak dapat direalisasikan. Perlu adanya ketegasan dalam menjalankan peraturan-peraturan yang ada serta keberanian untuk mengalokasikan dana demi pembukaan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Ketujuh, perlu adanya perhatian bagi keberadaan pulau-pulau kecil serta wilayah-wilayah dataran rendah di Indonesia. Jika pemanasan global terus berlanjut dan permukaan air laut terus meningkat, diperkirakan air laut akan masuk ke Jakarta pada tahun 2030. Pada tahun yang sama pula, Indonesia akan terancam kehilangan sekitar dua ribu pulau-pulau kecilnya.

Masih banyak sebenarnya deretan agenda yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia lima tahun ke depan. Hal ini semata-mata untuk mencegah terjadinya suatu bencana katastrofal, yaitu pemanasan global yang telah mencapai titik yang tidak bisa dipulihkan

Disesalkan

Patut disesalkan memang ketika banyak agenda yang harus dibicarakan dalam bidang lingkungan hidup, namun KPU sama sekali tidak mengangkatnya sebagai salah satu topik pada debat capres maupun cawapres. Hal lain yang juga patut disesalkan adalah hanya satu dari tiga capres yang berani menunjukkan misi nya di bidang lingkungan hidup.

Dari ketiga website para capres, saya hanya melihat website dari kubu Mega-Pro lah yang berani mengungkapkan rencana-rencana konkret apa yang hendak mereka lakukan di bidang lingkungan hidup jika mereka terpilih nanti. Berbeda dengan rencana SBY-Berbudi yang terlihat sangat implisit. Sedangkan pada website JK-Win, tidak tercantum sama sekali misi konkret apa yang hendak mereka lakukan di bidang lingkungan hidup.

Sudah seyogyanya bagi para capres-cawapres serta seluruh rakyat Indonesia untuk membenahi lingkungan hidup. Realisasi dari rencana yang matang mutlak harus dilakukan. Pengabaian terhadap masalah lingkungan hidup, hanya akan membukakan pintu bagi bencana katastrofal yang sudah mengetuk selama sekitar dua puluh tahun terakhir.

Belajar Dari Plato : Cinta dan Perkawinan

Cinta dan perkawinan terkadang menjadi sesuatu yang suka dipermainkan. Patutkah itu semua? Belajarlah dari Plato, seorang filsuf Yunani. Saya mengutip artikel ini melalu pencarian saya di internet.

Cinta dan Perkawinan Menurut Plato

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatang pun pada akhirnya.”

Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya.”

Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan.”

Catatan kecil:

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.

Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan…tiada sesuatu pun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu. Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Inilah cinta dan perkawinan yang berhasil dirumuskan oleh Plato lewat pengalamannya sendiri. Pelajarilah, renungkanlah, dan praktikkanlah.