Jika Atheis Menggugat Saya

Perdebatan mengenai ada atau tidaknya Allah, bukanlah perkara mudah. Patut diakui, hingga sekarang pun perdebatan ini tidak akan pernah selesai. Kalangan theis, tentu saja harus terus berhadapan dengan golongan atheis yang tidak percaya akan keberadaan Allah. Akankah perdebatan ini bisa berakhir?

Pertanyaan mendasar yang sering terlontar dari golongan atheis untuk menggugat keberadaan Allah akan selalu berdasarkan dengan realita di muka bumi ini bahwa di bumi ini penderitaan dan kejahatan tidak pernah berakhir. Jika memang Allah itu ada dan memang Ia Mahabaik, mengapa harus ada kejahatan dan penderitaan? Mengapa Ia seolah-olah diam dengan semua yang ada di muka bumi ini? Lalu, jika Ia memang Mahasegalanya, mengapakah Ia tidak bisa menghancurkan semua yang jahat dan kemudian hanya menyisakan yang baik -karena Ia Mahabaik yang tentunya tidak menghendaki kejahatan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan yang menggugat nalar manusia, dalam artian, kita diajak untuk berpikir logis. Akan sangat tidak logis ketika kita berkata bahwa yang baik bisa menghendaki kejahatan dan membiarkannya. Jika demikian, secara logika, maka ia tidak lagi bisa dikatakan baik sebab ia telah membiarkan kejahatan itu ada dan secara implisit, ia telah mendukung adanya kejahatan itu sendiri.

Lalu, jika kita berdiri pada golongan theis, bagaimana kita menjawab hal semacam ini?

Bagi saya, seorang awam, akan lebih mudah untuk menjawab dari segi kebebasan yang dimiliki manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, secitra dengan-Nya. Oleh sebab itu, maka manusia diciptakan untuk juga bisa berkehendak bebas. Konsekuensi dari kebebasan yang diberikan bisa menjadi kebaikan, kejahatan atau tidak kedua-duanya.

Kebaikan dan kejahatan adalah dua nilai yang saling menjadi acuan bagi yang lainnya. Kebaikan tidak akan pernah dikenal jika tidak ada kejahatan. Kejahatan juga tidak akan pernah dikenal jika tidak ada kebaikan. Sedangkan tidak baik dan tidak jahat, tidak akan dikenal jika kita tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat.

Oleh karenanya, jawaban perihal mengapa Allah membiarkan adanya kejahatan, menurut hemat saya, adalah karena Allah ingin mengajarkan kepada kita apa yang disebut kebaikan. Tanpa adanya pembanding yang jelas, yakni kejahatan, maka kita tidak akan menganl apa yang disebut kebaikan itu.

Jika kemudian terlontar lagi pertanyaan mengenai keberadaan Allah, maka saya akan akan menjawab seperti ini,

“Saya maupun anda tidak akan pernah mengetahui Allah selama kita tidak mengimaninya. Anda boleh mengatakan bahwa saya cukup bodoh untuk mengimani sesuatu yang bagi anda kosong, namun akan lebih bodoh lagi ketika anda hidup hanya untuk meninggal dan selesai, karena saya hidup untuk menghendaki sebuah kehidupan yang lebih baik setelah raga saya ini tiada. Anda menggugat saya bodoh dengan iman saya, dan saya akan menggugat darimana anda berasal. Dari sperma yang bertemu ovum? Darimana itu semua? Dari testis dan ovarium? Darimana testis dan ovarium itu? Dari sel yang berkumpul menjadi jaringan? Darimana ada sel dan jaringan? Dari teori Harold Urey dan Stanley Miller? Anda pun pada akhirnya berujung pada kebuntuan, sebab itu hanya teori yang tidak bisa dibuktikan dengan kenyataan sebenarnya.”

Menjungkirbalikkan Kenihilan Dogma Trinitas

Menjawab sebuah dogma yang telah menjadi stigma bukanlah suatu perkara mudah. Apalagi, jika kemudian dogma tersebut memang tidak bisa dibuktikan secara nyata dalam realita kehidupan manusia sehari-hari.

Nasrani dan Islam, dua agama monoteis terbesar di dunia, sudah lama terjerat dalam suatu perangkap yang saling menuduh bahwa salah satunya adalah sesat. Sejarah membuktikan bagaimana satu sama lain telah saling bersaing dalam menyebarkan pengaruhnya ke seluruh pelosok dunia. Tak jarang, pengambilan suatu nyawa pun dianggap sebagai suatu cara yang lumrah dengan imbalannya berupa tempat di nirwana.

Satu hal yang terus menerus diperdebatkan antara dua agama monoteis terbesar ini adalah mengenai paham trinitas yang dianut oleh kalangan Nasrani. Paham inilah yang kemudian menjadi salah satu dari sekian banyak akar masalah yang terus mempertajam ketidakharmonisan antara kaum Muslim dan Nasrani.

Sebenarnya, ada beberapa hal substantif yang harus diperhatikan dalam memahami dogma Trinitas ini. Realitanya, hal-hal substantif inilah yang sering disepelekan dan kemudian menyebabkan terdistorsinya suatu paradigma yang ada.

Trinitas dan Rumusan Eksak
Pertama, keabsurdan untuk mengaitkan dogma Trinitas ini dengan rumusan eksak yang berlaku di masyarakat. Dogma Trinitas ini merupakan dogma yang berkaitan dengan Allah, sehingga tidak ada formulasi apapun yang tepat untuk menjelaskan hal ini.

Rumusan yang berlaku di masyarakat adalah satu berbeda dengan tiga dan tiga memang bukan satu. Satu tidak bisa menjadi tiga jika tidak ditambah dengan dua. Begitu juga dengan tiga, tidak bisa menjadi satu jika tidak dikurangi dengan dua.

Oleh sebab itu, mengaitkan dogma Trinitas ini dengan suatu rumusan yang berlaku di masyarakat, hanya akan membawa kita pada suatu pemahaman dan penyimpulan yang menyimpang.

Keterbatasan Pikiran Manusia
Kedua, peyadaran akan suatu keterbatasan dalam nalar dan pikiran seorang manusia. Nalar dan pikiran seorang manusia –sehebat apapun dia- pasti akan memiliki titik nadirnya sendiri. Keterbatasan inilah yang menunjukkan bahwa pemahaman mengenai dogma Trinitas pun jauh diluar kemampuan pikiran manusia.

Namun dengan begitu, bukan dengan tidak bisa diterimanya dengan pikiran manusia, dogma ini menjadi suatu dogma kosong. Yang perlu ditekankan adalah karena ini menyangkut pikiran Allah yang jauh melampaui pikiran manusia yang sangat terbatas.

Hal mengenai keterbatasan ini diperkuat oleh orang suci dari kalangan Nasrani sendiri, yakni Santo Agustinus yang lahir tanggal 13 November 354. Sama seperti manusia lainnya, –apalagi ia adalah seorang ahli filsafat dan retorika- ia berusaha untuk mencari jawaban atas misteri Trinitas.

Dikarenakan frustasi tidak bisa menemukan jawaban atas misteri tersebut, kemudian ia pergi ke pantai dan melihat sesosok anak kecil yang membawa botol kecil.

Ia bertanya demikian, “Apa yang hendak kamu lakukan, nak?”

Anak itu menjawab bahwa ia hendak memasukkan semua air laut itu ke dalam botol kecil tersebut. Mendengat jawaban anak itu, Santo Agustinus kemudian tertawa, menyadarai bahwa itu semua adalah keabsurdan. Lalu, anak kecil itu juga berkata bahwa usaha seorang manusia untuk memahami Allah juga adalah sia-sia. Tak lama setelah itu, anak itu menghilang dari pandangan Santo Agustinus.

Barulah saat itu Santo Agustinus tersadar bahwa pikiran manusia itu terbatas dan sangat kecil jika dibandingkan dengan pikiran Allah yang sangat luas dan tak terbatas. Oleh sebab itu, mencoba untuk memhami misteri Trinitas itu tidak bisa dijelaskan secara seratus persen. Namun sekali lagi, bukan berarti misteri Trinitas itu adalah sebuah dogma kosong.

Pencampuradukkan
Ketiga, mengenyampingkan proses pencampuradukkan konsep Trinitas dari kaum Nasrani dengan konsep yang berasal dari pemahaman atau kepercayaan lainnya.

Trimurti adalah salah satu kepercayaan yang dianggap sama dengan Trinitas. Asumsi ini menyebabkan terdistorsinya kebenaran dari Trinitas itu sendiri, sebab Trinitas kemudian dianggap menigakan Allah, tidak menyembah kepada Allah, dan merupakan jelmaan dari konsep Trimurti. Trimurti, dalam konteksnta, adalah tiga dewa dalam perspektif Hindu yang pada hakekatnya bukan Allah. Berbeda dengan Trinitas yang adalah Allah itu sendiri. Jadi, tidak bisa dilakukan penyamaan dalam dua hal tersebut maupun hal-hal lainnya yang memiliki kedekatan dengan konsep Trinitas.

Memahami Dogma Trinitas
Melalui proses wawancara saya dengan seorang Pastor diosesan sebelum membuat tulisan ini, beliau menjelaskan bahwa konsep Trinitas ini bisa dijelaskan dari beberapa sisi. Bisa dari sisi filosofi agama Katolik, sejarah penyelamatan umat manusia, pandangan orang-orang kudus seperti Santo Agustinus, Santo Thomas Aquinas, dll, serta yang terpenting referensi dari Alkitab itu sendiri.
Namun, beliau menekankan satu hal bahwa Trinitas ini tidak bisa dipahami dalam tataran pikiran manusia karena ini menyangkut keimanan dan penghayatannya, sama seperti pikiran Santo Agustinus setelah mengalami iluminasi.

Dalam wawancara saya tersebut, saya dijelaskan mengenai Trinitas dengan pendekatan sejarah penyelamatan umat manusia. Oleh sebab itu, saya juga akan menjelaskan mengenai Trinitas dengan pendekatan yang sama dengan apa yang dijelaskan oleh beliau.

Pada awalnya, Allah ingin menyelamatkan umat manusia, pada zaman kitab suci Perjanjian Lama, melalui perantaraan para nabi seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, serta nabi-nabi yang lainnya. Namun, apa yang terjadi adalah sebaliknya. Nabi-nabi itu kemudian malah dibunuh dan manusia tetap menjadi murtad dengan Allah.

Kemurtadan manusia, tidak serta-merta membuat Allah juga membenci manusia. Oleh sebab itu, Allah yang begitu mencintai manusia mengutus Putra-Nya yang tunggal, yang oleh keum Nasrani disebut Allah Putera, untuk menebus dosa umat manusia di bumi sekaligus Allah Putera ini merupakan jalan kebenaran dan hidup.

Setelah wafat-Nya di kayu salib, maka tugas Allah Putera sudah selesai di dunia ini – ditunjukkan dengan kebangkitan-Nya- , sebab Ia kemudian kembali ke Surga untuk bersama dengan Allah Bapa. Namun, Allah tidak kembali meninggalkan manusia dalam kesendirian, tetapi mengutus Roh Kudus yang tidak lain adalah Roh-Nya sendiri, yang kemudian oleh umat Nasrani disebut Allah Roh Kudus, yang berperan untuk menuntun manusia hingga sekarang serta untuk menyelesaikan karya penyelamatan.

Konsep Trinitas melalui sejarah penyelamatan umat manusia sebenarnya ingin menekankan pengenalan kita akan sosok Allah itu sendiri. Dari Allah yang tidak kita kenal menjadi Allah yang kita kenal. Pengenalan akan sosok Allah dalam diri Allah Putera ini ditekankan dalam injil Yohannes 14: 8-13, sedangkan pengenalan akan Allah Roh Kudus ditekankan dalam Injil Yohanes 14:15-17

Selain pendekatan dari sudut pandang sejarah penyelamatan umat manusia, perlu diketahui juga bahwa penjelasan mengenai Trinitas dapat dapat dibuktikan dari sudut biblis. Ada cukup referensi, baik dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru, yang menyatakan mengenai konsep Trinitas ini. Link berikut ini akan membawa anda pada pembuktian mengenai sebuah penjelasan mengenai Trinitas dari sudut pandang biblis.

Kasta Dalam Trinitas?
Dalam wawancara yang sama, saya bertanya kepada Pastor diosesan itu mengenai apakah ada sistem kasta dalam Trinitas. Hal ini kemudian merujuk pada konteks Allah Bapa lebih tinggi dari Allah Putera, dan Allah Putera lebih tinggi dari Allah Roh Kudus.
Jawaban yang diberikan seperti ini.

“Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus adalah sehakekat. Oleh karena itu, tidak ada sistem kasta dalam Trinitas. Mungkin, anda bisa memahaminya seperti ini. Mereka bekerja seperti struktur lingkaran dalam lingkaran. Allah Roh Kudus bekerja bersama kita dalam lingkaran terdalam untuk berdoa bersama perantaraan Allah Putera di lingkaran kedua dan kemudian untuk menyampaikan doa itu kepada Allah Bapa yang ada di lingkaran terluar. Tidak ada konteks siapa membawahi siapa atau siapa berada di bawah siapa.“

Hal ini nampaknya cukup menjelaskan bagaimana sistem dalam Trinitas itu. Yang ada adalah sebuah kesetaraan karena memang Trinitas adalah tiga pribadi yang pada hakekatnya adalah satu Allah yang sama.

Misteri Abadi Keimanan Nasrani
Menjelang saya menyelesaikan tulisan ini, saya sempat berkomunikasi dengan seorang frater yang sedang mendalami ilmu filsafat dan teologi. Dalam percakapan yang yang kurang lebih berlangsung selama dua jam itu, ada satu hal pokok yang disampaikan oleh beliau.

“Menjelaskan dogma Trinitas ini kepada mereka yang tidak mengimaninya sangatlah tidak mungkin. Ini menyangkut masalah keimanan umat Nasrani. Bagaimanapun juga, akal sehat dan pikiran manusia tidak akan pernah mampu untuk memahami misteri ini seratus persen. Pikiran manusia tidak akan mapu untuk menjangkau pikiran Allah. Trinitas berbeda dengan ilmu pengetahuan, yang bisa diperdebatkan dengan menunjukkan segelinitir bukti. Trinitas adalah masalah keimanan, namun bukan dengan tidak bisa diperdebatkannya hal ini, Trinitas kemudian menjadi sebuah dogma kosong.”

Inilah yang patut untuk digarisbawahi. Trinitas sebagai sebuah misteri abadi keimanan bukanlah suatu hal yang dapat diperdebatkan, karena memang ini menyangkut masalah keimanan.

Memercayai Trinitas atau tidak adalah sebuah hak. Namun yang pasti, menuduh Trinitas merupakan sebuah dogma kosong dan sesat adalah sebuah penditorsian, karena Trinitas memang bisa dibuktikan secara biblis dan sejarah meskipun tidak seratus persen. Hal ini mengingat karena Trinitas adalah sebuah misteri abadi, dan hanya pikiran Allah saja yang mampu untuk mengungkap misteri ini.

“Dasar Setan! Anjing!”

Entah mengapa, penulis merasa, masih banyak orang Indonesia yang ketika kesabarannya sudah berada di ambang batas, senang untuk mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya tidak patut untuk dikeluarkan.

Hal ini dialami oleh penulis ketika hendak mengambil merchandise dari pihak kompasiana. Perjalanan yang ditempuh pun bukan perjalanan yang menyenangkan dimana penulis bisa duduk santai dan tenang sambil mendengarkan lagu, melainkan perjalanan yang penuh dengan karut-marutnya suasana lalu lintas ibukota.

Dimulai dari Terminal Tanah Abang, penulis melanjutkan naik mikrolet M 11 untuk turun di daerah Palmerah. Di tengah perjalanan, disebabkan jalan palmerah utara yang semrawut dengan angkot, ada sebuah mikrolet yang hendak menyalip dari kiri. Spontan –mungkin karena kesal dengan sepinya penumpang- sopir angkot yang membawa penulis pun berteriak, “Masuk sini (menyalip). Laga lo uda kaya pembalap. Dasar k****l!!” Itulah kejadian pertama, dimana ada kalimat yang tidak enak didengar dari mulut sang supir mikrolet. Penulis mencoba memaklumi, apalagi dengan kondisi dimana semua pengguna jalan disana hendak untuk mendapatkan akses jalan yang cepat.

Setelah mengambil merchandise dari kompasiana, penulis kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini, dengan menggunakan mikrolet M 09 dengan tujuan Terminal Tanah Abang. Suasana yang dilewati pun masih sama, yakni sangat semrawut. Akhirnya, sampailah mikrolet tersebut di Terminal Tanah Abang. Tanpa disadari oleh siapapun di mikrolet tersebut, kemudian muncul sebuah motor dengan kecepatan tinggi menyalip mikrolet tersebut dari arah kiri. Dipenuhi rasa kaget, sopir mikrolet itu berteriak, “Dasar setan! Anjing!” Itulah untuk kedua kalinya penulis mendengarkan kalimat bernada kasar yang keluar dari mulut dimana kesabaran sudah berada pada ambang batas.

Selesai dari mikrolet M 09, penulis melanjutkan perjalanan dengan bus kota bernomor 507 dengan tujuan Pulo Gadung. Awalnya, keadaan masih berlangsung lancar dan nampak baik, namun kemudian ada satu masalah yang akhirnya membuat penulis mendengar kalimat bernada kasar yang terlontar begitu saja untuk ketiga kalinya dari supir angkutan umum di hari yang sama.

Kejadiannya berawal ketika ada seorang ibu muda yang hendak masuk ke dalam bus 507 si sekitar fly over Tanah Abang. Di waktu yang sama, tanpa persiapan sebelumnya, ada seorang ibu juga yang hendak keluar dari bus. Tentu saja karena tidak bersiap dahulu di pintu bus, kedua ibu ini seperti bertabrakkan. Spontan, supir bus langsung berteriak, “Liat-liat kalo mau keluar, setan! Anjing!” Itulah kalimat bernada kasar ketiga yang didengar penulis sewaktu dalam perjalanan dalam proses mengambil merchandise dari kompasiana.

Dari sederet kejadian ini, penulis menyadari bahwa sebenarnya ketika kesabaran seseorang manusia sudah diambang batas, semuanya yang tidak baik bisa begitu saja keluar. Namun, seyogyanya kita sebagai manusia beradab dan bermoral harus lebih bisa mengendalikan diri dalam situasi yang sulit sekalipun. Setidaknya, ini bertujuan agar tidak menyakiti hati orang lain ketika kita berbicara, sebab lawan bicara kita juga adalah manusia yang mempunyai perasaan.

Jangan Mempolitisir Masalah Pertahanan dan Keamanan

Jakarta kembali meratap, ketika di pagi hari tanggal 17 Juli 2009, ibukota Indonesia ini harus kembali disambut oleh dua ledakan yang cukup dahsyat. Tidak tanggung-tanggung, dua hotel bertaraf internasional. JW Marriott dan Ritz Carlton, menjadi korban. Puluhan korban berjatuhan, mulai dari warga asing hingga warga lokal.

Jakarta kini harus kembali menghadapai masalah klise internasional, terorisme, di tengah dua agenda penting. Pertama, kejadian ini hanya memiliki selang waktu sembilan hari dari ajang pilpres 2009 dan yang kedua, hanya memiliki selang waktu satu hari menjelang kedatangan klub sepak bola raksasa dari Inggris, Manchester United, ke Jakarta.

Ada tendensi apa dibalik semua kasus ini? Sebuah temdensi akibat ketidakpuasan terhadap hasil pilpres 2009? Sebuah aksi terorime mencegah kedatangan tim Manchester United? Atau, hanya sekedar aksi terorisme biasa yang mungkin memiliki sangkut paut dengan aksi-aksi terorisme sebelumnya?

Mengapa dipolitisir?

Presiden SBY pun, dalam pidatonya yang berkaitan dengan aksi terorisme ini, nampaknya masih cenderung untuk memolitisir aksi ini dengan mengaitkannya dengan adanya oknum yang tidak puas berkaitan dengan hasil pilpres 2009.

Penunjukkan beberapa foto oknum yang ditengarai adalah teroris dalam latihan menembak dengan sasaran foto SBY, menunjukkan posisi beliau yang dinilai dalam bahaya, apalagi dalam masa pascapilpres 2009. Adanya sejumlah pernyataan yang kemudian juga berkaitan dengan isu pilpres 2009, seperti pernyataan akan menjadikan Indonesia seperti Iran, akan adanya revolusi jika SBY kembali menang dalam pilpres 2009, SBY yang tidak boleh dan tidak bisa dilantik, KPU yang akan diboikot menjelang pelantikan presiden RI, menunjukkan adanya sebuah tendensi dalam memolitisir kasus terorisme ini.

Mengapa, sebuah aksi yang berkaitan dengan bidang pertahanan dan keamanan negara kemudian harus disangkutpautkan dengan isu di bidang politik? Apalagi, yang membicarakan hal ini adalah seorang yang nantinya hampir dipastikan akan duduk kembali menjadi incumbent.

Hal ini tentu saja akan dapat membuat citra buruk di kubu yang tadinya menjadi lawan sang incumbent saat pilpres 2009 berlangsung. Pernyataan semacam ini bisa menyulut konflik politik yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sikap saling sindir sudah usai di ajang kampanye. Yang mejadi substansi ke depan adalah bagaimana membuat Indonesia menjadi lebih baik, bukannya mempolitisir kembali kejadian yang sebenarnya tidak memiliki sangkut paut yang jelas dengan bidang politik.

Aksi terorisme yang terjadi ini, seyogyanya tidak diakitkan dengan permasalahan di bidang politik. Terorisme berkaitan dengan permasalahan di bidang pertahanan dan keamanan negara. Oleh sebab itu, yang patut untuk direfleksikan adalah bukan adanya ketidakpuasan dari kubu yang kalah dalam pilpres. Jauh dari itu semua, yang harus direfleksikan adalah mengapa pertahanan dan keamanan negara kita bisa dijebol, apalagi dengan pengamanan super ketat yang telah diterapkan oleh dua hotel bertaraf internasional.

Dimana intelijen?

Sebuah pertanyaan yang kemudian patut untuk direfleksikan juga adalah tentang bagaimana keefektifan kinerja badan intelijen yang dimiliki oleh negara.

Badan intelijen pun seyogyanya sudah mengetahui bahwa keamanan presiden itu sangat riskan, apalagi dalam situasi pascapilpres seperti sekarang. Dengan ditemukannya foto-foto yang berkaitan dengan kemungkinan terganggunya keamanan presiden, seyogyanya pula masalah ini diselesaikan secepatnya dan bukan malah diangkat untuk kemudian seolah-olah dijadikan kambing hitam bahwa ada oknum yang tidak suka dengan kubu incumbent dan mencoba untuk mengganggu pemerintahannya seperti yang terjadi di Iran.

Memang, tidak bisa disangkal jika ada oknum yang tidak senang dengan kemenangan kubu SBY dalam pilpres kemarin. Namun, akan menjadi sebuah kesalahan besat ketika aksi terorisme yang terjadi di Jakarta ini mulai disangkutpautkan dengan ketidakpuasan dari kubu yang kalah pada pilpres. Permasalahan pertahanan dan keamanan sudah seyogyanya bebas dari segala unsur-unsur politik. Masalah terorisme ini akan sekesai ketika fokusnya dicurahkan pada pertanyaan-pertanyaan reflektif yang berhubungan dengan pertahanan dan keamanan itu sendiri dan bukan dengan mempolitisirnya.

Pemilu Damai di TPS 044 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading

Euphoria demokrasi mencapai puncaknya pada hari ini, Rabu 8 Juli 2009. Semua orang Indonesia yang sudah memiliki hak pilih dari Sabang sampai Merauke, termasuk yang berada di luar negeri, kini turut serta untuk memberikan suaranya dalam upaya mewujudkan suatu bentuk negara yang bersistem demokrasi.

Euphoria demokrasi ini juga nampak di tempat dimana saya memilih, TPS 044, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang melayani 4 RT dari RT 007 hingga RT 010 dengan jumlah DPT sebanyak 337 jiwa.

TPS 044 Kelurahan Pegangsaan Dua
TPS 044 Kelurahan Pegangsaan Dua

Mulai tanggal 6 Juli 2009, bangku-bangku dan meja-meja sudah dipersiapkan. Keesokan harinya, 7 Juli 2009, persiapan dinilai cukup baik. Tenda sudah dipasang sekitar sore hari, bilik-bilik suara sudah ditempatkan pada tempatnya, dan bangku-bangku serta meja-meja sudah diletakkan sebagaimana mestinya. Penjagaan pun dilakukan cukup baik. Satu orang anggota keamanan dari RW 010, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, ditempatkan untuk menjaga TPS hingga pemungutan suara dimulai pukul 08.00.

Tepat ketika TPS dibuka, pukul 08.00 WIB, sudah banyak warga yang mengantri untuk memberikan hak suaranya. Penjagaan pun dilakukan lebih maksimal dengan adanya penambahan satu anggota keamanan RW 010 dan satu anggota polis.

Suasana TPS 044 Kelurahan Pegangsaan Dua
Suasana TPS 044 Kelurahan Pegangsaan Dua

Bisa dipastikan, sekitar dua puluhan orang sudah mengantri dan duduk dengan tenang untuk menunggu giliran memberikan hak suaranya. Bilik yang disediakan pun lebih banyak satu buah dibandingkan saat pemilu legislatif lalu. Jumlah bilik yang ada kini adalah empat buah. Hal ini menyebabkan antrian tidak begitu panjang dikarenakan jumlah bilik suara yang cukup memadai.

Bilik Suara TPS 044
Bilik Suara TPS 044

Penulis sendiri mencontreng sekitar pukul 10.15. Saat itu, sudah sekitar 170 orang menggunakan hak pilihnya dan ketika penulis kembali lagi pukul 11.45, sudah sekitar 240 orang yang menggunakan hak pilihnya. Ini berarti, sudah lebih dari separuh pemilik hak, telah memberikan suaranya.

Surat Suara Pilpres 2009
Surat Suara Pilpres 2009

Memang, jika dilihat sekilas, antrian tidak lagi seramai di pagi hari. Namun, jika diamati secara seksama, hal ini disebabkan karena pemilih itu datang satu persatu dan tidak berbondong-bondong seperti di pagi hari, sehingga tidak terjadi antrian yang berarti. Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang petugas keamanan di pintu masuk TPS. “Kedatangan masyarakat sekarang satu-persatu. Sudah tidak berama-ramai seperti tadi siang. Makanya terlihat sepi“

TPS 044 sendiri tutup seperti yang dijadwalkan, sekitar pukul 13.00. dari 337 orang yang terdaftar, hanya 285 orang yang menggunakan hak pilihnya. Selesai pemungutan suara, dilanjutkan dengan menutup TPS, bersih-bersih dan tiba di acara puncak pada pukul 14.00, yaitu penghitungan suara untuk TPS 044.

Tidak banyak pengunjung yang mengikuti acara penghitungan suara, namun semua petugas keamanan lengkap ada di TPS untuk menjaga jalannya proses penghitungan suara ini. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, pasangan SBY-Berbudi unggul dengan perolehan 180 suara (63,16 %) disusul dengan pasangan Mega-Pro dengn 76 suara (26,67 %)dan terakhir pasangan JK-Win dengan 20 suara (7,02 %). Sedangkan junlah suara tidak sah adalah 9 suara (3,15 %).

Usailah pesta demokrasi yang berlangsung di TPS 044, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara ini. Secara keseluruhan, tidak ada hambatan yang berarti dalam pilpres 2009 kali ini.

Apapun hasilnya, dalam benak setiap penduduk hampir bisa dipastikan bahwa mereka semua akan menaruh harapan kepada pemimpin mereka yang baru untuk membuat Indonesia jauh menjadi lebih baik.

Selamat kepada pasangan pemenang pilpres 2009 dan sebuah apresiasi bagi pihak yang kalah karena telah turut menyemarakkan pesta demokrasi ini serta memberi masukkan yang berarti terkait permasalahan DPT.

Belajar Hidup Dari Seorang Gadis Cacat Mental

Hidup dengan menanggung stigma yang telah melekat dari lahir, bukanlah perkara mudah. Siapapun itu, harus memiliki jiwa besar untuk kemudian menjalani hidup. Apalagi, dengan stigma yang menempel pada dirinya, bukan tidak mungkin orang-orang semacam ini kemudian akan menjadi sampah masyarakat.

Siapa kumpulan orang yang tidak dianggap seperti ini? Tentu saja adalah orang yang memiliki ketidakberuntungan secara fisik maupun mental, secara ekonomi maupun hubungan sosial.

Jika kemudian penulis hendak memperlihatkan foto di bawah ini, interpretasi apa yang akan muncul dalam benak para pembaca?

Penulis tidak akan menyalahkan pembaca jika interpretasi yang kemudian muncul adalah bahwa anak ini memiliki keterbelakangan mental, sebab memang itulah kenyataannya.

Gadis ini bernama Noni, lahir pada tanggal 30 September 1985 dan telah berusia sekitar 23 tahun sekarang. Ia tinggal di daerah Jembatan Hitam, dekat daerah Jembatan Lima serta menghabiskan waktunya sebagai pelajar di SLB Tri Asih di daerah Kampung Duri.

Apa yang membuat penulis kagum dengan sosok yang satu ini?

Selama proses wawancara dan bincang-bincang dengan gadis tersebut dan para anggota keluarganya, penulis menyadari bahwa gadis ini ternyata memiliki segudang presatasi yang patut dibanggakan, yang mungkin orang normal pun belum tentu bisa mendapatkannya.

Yang paling patut untuk dibanggakan adalah ketika gadis ini mewakili Indonesia untuk pergi ke Jepang dalam acara olimpiade yang dikhusukan untuk anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental.

Gadis ini berhasil menang dalam bagian pidato bahasa Inggris. Selain itu, gadis ini juga berhasil bertemu mantan Presiden Amrika, Bill Clinton, dikarenakan ia pernah berkata kepada Bill Clinton seperti ini, “Terima kasih Pak Presiden, karena telah membantu Aceh.” Sungguh menakjubkan seorang anak yang memiliki ketidakberuntungan dalam hal mental, bisa melontarkan kata-kata semcam itu.

Selain itu, gadis ini juga pernah bertemu dengan Ibu Ani Yudhoyono untuk kemudian menitipkan salam kepada Presiden SBY, sebab hari itu beliau sedang berulang tahun. Ia juga sering untuk diundang pada acara-acara yang dilakukan oleh beberapa menteri. Diantaranya, ia pernah makan pagi bersama Bapak Aburizal Bakrie di rumahnya, bertemu dengan Suryadi Sudirja, mantan Gubernur DKI Jakarta, serta bertemu beberapa menteri lainnya. Orang normal pun belum tentu memiliki kesempatan bagus untuk bisa duduk bersama orang-orang dari jajaran kabinet Republik Indonesia.

Dukungan Keluarga
Saat penulis sedang berbincang dengan para anggota keluarga dari Noni, penulis mendapatkan sebuah pengakuan yang menarik dari salah seorang saudara sepupunya.

“Saat dia lahir (Noni), kami sekeluarga besar memang sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada anak ini. Namun, kami kemudian ditekankan satu hal oleh para orang tua kami. Kira-kira seperti ini perkatannya, ‘apapun yang dialami oleh saudara kalian ini (Noni), kalian tetap harus mendukungnya, sebab bagaimanapun juga ia adalah saudara kalian.’ “

Dalam kesempatan yang sama, penulis juga semat mewawancarai dan berbincang banyak dengan bibi dan orang tua dari Noni. Setelah berbincang banyak mengenai prestasi yang telah diukir oleh Noni, salah satu bibi dari Noni ini berkata,

“Dukungan keluarga itu sangat penting untuk anak seperti ini. Tanpa adanya perhatian yang diberikan khusus kepada mereka, mereka tidak akan bisa maju. Dokter pun terkejut ketika mengetahui betapa cepatnya perkembangan Noni. Hal ini disebabkan karena kondisi keluarga yang tidak menganggapnya sebagai sebuah gangguan, melainkan sebagai tempat untuk mencurahkan kasih sayang secara lebih.”

Dalam kutipan perbincangan tersebut, dapat terlihat dengan jelas bagaimana pentingnya dukungan keluarga bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental. Hal ini bertujuan agar mereka kemudian tidak menjadi minder dan tetap dapat berkreativitas meskipun memiliki sebuah ketidakberuntungan.

Selain itu, penulis juga berkesempatan untuk mewawancarai Noni secara langsung. Hal pertama yang terlontar dari benak penulis adalah apakah adanya rasa minder pada diri sendiri dan bagaimana perasaan si gadis (Noni) ketika mendapat celaan dari orang lain. Jawabannya kira-kira seperti ini.

“Saya tidak pernah merasa kecil hati dengan diri saya. Jika kemudian ada orang yang mencela saya, memang pada awalnya saya sangat sedih. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyerahkan saja semuanya kepada Tuhan. Biar nanti Ia yang membalas.”

Kemudian, penulis juga menanyakan cita-cita yang hendak ia capai. Mengharukan sekali ketika penulis mendengar kata-kata yang terlontar dari mulutnya.

“Saya berkeinginan untuk menerbitkan sebuah buku dengan Bahasa Inggris yang berisi mengenai kebudayaan di Jepang. Memang, saya dibantu oleh beberapa orang yang akan merangkaikan kata-katanya. Namun, saya menyumbang ide terhadap tulisan tersebut.”

Ini adalah sebuah cita-cita sederhana yang dari seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental. Hanya menciptakan sebuah buku.

Ternyata, membawa sebuah stigma itu memang bukan perkara mudah. Lingkungan sekitar adalah faktor utama mengapa membawa sebuah stigma itu tidak mudah. Namun, kita bisa belajar banyak dari anak yang memiliki ketidakberuntungan secara mental ini, yaitu bahwa ketika kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu tidak salah namun kita tetap harus dijauhi oleh orang lain, kita harus bisa menerimanya dengan terus berdoa bahwa Tuhan akan memberi balasan yang setimpal.

Dari kejadian ini pun, seyogyanya kita belajar untuk bisa menerima diri kita apa adanya. Sebab di setiap kekurangan kita, pasti ada kelebihan yang mungkin memang belum tergali.