Indonesia yang Masih Muda: Harus Terus Belajar untuk Mencapai Kemerdekaan Sejati

Indonesia akan segera menapaki usia 64 tahun. Usia ini jika dilihat dari kacamata seorang manusia, bukanlah lagi merupakan sebuah usia yang muda dan juga bukan merupakan sebuah usia yang produktif dimana pada masa ini sebagian besar pekerja pasti akan segera memasuki masa pensiun. Namun, untuk ukuran sebuah negara, usia ini tidaklah cukup tua jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa atau Amerika yang sudah berumur ratusan tahun.

Ada orang yang mengatakan bahwa masa muda adalah sebuah masa yang paling indah, sebuah masa dimana kita bebas untuk mengeksplorasi diri kita untuk menemukan jati diri kita yang sebenarnya. Masa muda yang dijalankan dengan sebaik-baiknya, akan memberikan dampak positif pada masa tua nya. Sedangkan masa muda yang dijalankan dengan asal-asalan tanpa aturan dan tujuan hidup yang jelas, hanya akan berujung pada penyesalan di masa tuanya.

Seorang di masa muda pun, jika ingin mendapatkan sesuatu yang baik, memerlukan bimbingan dari orang-orang yang telah berpengalaman. Yang paling hampir bisa dipastikan adalah bimbingan dari orang tua mereka sendiri yang akan memberikan nilai-nilai yang membangun. Kedua, mereka bisa memperoleh nilai-nilai itu dari persahabatan mereka. Namun jangan salah, terkadang persahabatan pun bisa menimbulkan suatu kejadian yang namanya “makan temen,” yakni suatu kejadian dimana kita hanya memanfaatkan teman sendiri untuk kepentingan kita.

Indonesia pun saat ini baru memasuki usia yang tergolong cukup muda. Maka dari itu, Indonesia pun dihadapkan pada dua pilihan utama, menjadi baik atau menjadi hancur, eksis di peta dunia atau hilang ditelan zaman. Pilihan-pilihan ini akan ditetapkan oleh rakyat dan juga pemimpin Indonesia sendiri yang akan menentukan kemana arahnya jalan Indonesia ini melalui kebijakan-kebijakan yang akan dibuatnya.

Founding Fathers Indonesia sendiri bisa ditempatkan sebagai orang tua nya Indonesia. Mereka bisa dikatakan sudah memakan asam-garamnya kehidupan, karena mereka juga hidup di masa penjajahan, sebuah masa dimana penduduk dan kekayaan alam Indonesia di eksploitasi hanya untuk memenuhi hasrat sebuah negara dalam rangka memenuhi kas keuangan negaranya yang kosong. Mereka pun bisa menempatkan semangat persatuan dan nasionalisme yang begitu mengakar pada diri pemuda dan penduduk di Indonesia agar mereka bisa menjadi seorang yang merdeka, bebas dari penjajahan.

Namun, setelah merdeka, entah mengapa sepertinya Indonesia seperti kembali “dijajah” namun secara perlahan-lahan. Lebih parahnya, Indonesia nampak “dijajah” oleh mereka yang disebut sebagai sahabat bagi Indonesia itu sendiri. Kita sama-sama mengetahui bahwa Indonesia cukup mempunyai banyak sahabat di dunia ini. Indonesia pun seyogyanya bisa belajar dari sahabat-sahabat mereka bagaimana mereka bisa menjadi sebuah negara yang betul-betul merdeka dan memiliki rakyat yang sejahtera. Namun, apa yang terjadi malah sebaliknya. Indonesia tidak segera belajar dan hanya dimanfaatkan oleh sahabat-sahabatnya sendiri.

Persahabatan yang telah dibangun Indonesia selama ini, memang di satu sisi memberikan dampak positif. Majunya pembangunan dan modernisasi di Indonesia tidak bisa lepas dari bantuan para sahabat. Namun, di sisi lain, Indonesia sendiri belum bisa menyejahterakan rakyatnya secara menyeluruh. Yang terjadi adalah adanya jurang antara yang kaya dan yang miskin, kaum borjuis dan kaum buruh. Para sahabat sendiri nampaknya berhasil memanfaatkan kebaikan dan kelengahan Indonesia untuk kemudian menguras kekayaan alam yang ada di Indonesia. Akhirnya, Indonesia saat ini hanya ada dalam posisi sebagai “yang dimanfaatkan” oleh para sahabatnya.

Sebuah pertanyaan muncul kemudian. Jika kemudian kekayaan alam Indonesia ini habis, akankah Indonesia masih akan menjadi sahabat bagi negara-negara lainnya? Saya yakin sahabat yang baik akan menemani sahabatnya hingga dalam keadaan apapun, karena tujuan mereka menjadi sahabat adalah untuk menjadikan sahabatnya lebih baik. Namun, sahabat yang buruk akan meninggalkan sahabatnya begitu saja jika memang tidak ada lagi yang bisa mereka manfaatkan.

Indonesia masih muda, masih bisa menentukan kemana langkah berikutnya sebelum akhirnya hanya berujung pada penyesalan. Indonesia pun seharusnya bisa betul-betul belajar, bukannya hanya menjadi “yang dimanfaatkan” oleh para sahabatnya. Indonesia bisa kembali kepada orang tua mereka, belajar dari mereka bagaimana caranya mereka mampu untuk mendirikan sebuah negara bahkan ketika berada di zaman penjajahan. Belum telat bagi Indonesia untuk segera belajar dan menghindari diri dari ketidaktahuan untuk mewujudkan Indonesia yang betul-betul merdeka.