Air Mata, Sebuah Filosofi tentang Manusia Ideal untuk Lingkungannya

Banyak orang bertanya, sebagai seorang manusia, aku harus menjadi manusia yang seperti apa? Apakah aku harus menjadi seorang manusia yang besar dan memiliki pengaruh yang kuat? Ataukah aku hanya harus menjadi manusia yang pasif dan hanya mengikuti arus, mencari posisi nyaman dan tidak berani untuk keluar?

Saya memiliki jawaban tersendiri tentang bagaimana menjadi seorang manusia di dalam sebuah lingkungan yang kompleks ini. Lingkungan yang kompleks itu bisa masyarakat sekitar atau Indonesia secara khusus dan dunia pada umumnya. Namun pada intinya adalah sama, yakni sebuah keadaan yang tidak sederhana dan penuh dengan perbedaan di dalamnya yang seringkali menimbulkan permasalahan.

Manusia ideal

Menjadi manusia ideal pastinya adalah dambaan setiap orang di muka bumi ini. Tentunya, setiap orang mempunyai standar tersendiri bagaimana ia bisa menjadi manusia ideal. Saya pun juga mempunyai standar tersendiri perihal paham manusia ideal yang saya anut. Filosofi yang saya berikan adalah filosofi air mata.

Sebagai seorang manusia, tentunya kita mempunyai apa itu yang disebut dengan kelenjar air mata. Kelenjar air mata inilah yang dengan terus menghasilkan air mata. Dengan begitu, mata kita tidak akan kering dan mampu untuk melihat betapa indah atau buruknya dunia ini.

Apakah kelenjar air mata itu terlihat? Tidak sama sekali jika kita dalam keadaan manusia normal. Lain halnya ketika bagian tubuh kita dipotong-potong dan kemudian ada yang begitu penasaran hendak melihat bagaimana kelenjar air mata itu.

Kelenjar air mata secara langsung tidak akan pernah terlihat, begitu pula air matanya. Namun, yang membedakan air mata dan kelenjarnya adalah air mata itu sesekali akan dapat dengan jelas terlihat. Misalnya saat kita terlampau senang, maka tanpa disadari kita akan menangis. Begitu juga ketika kita sedang sedih, maka kita akan dengan segera menangis dan mengeluarkan air mata kita.

Kita bisa melihat betapa pentingnya fungsi dari air mata itu sendiri. ia bisa menenangkan di saat kita sedih, kita bisa mengeluarkan unek-unek kita dengan menangis. Di satu sisi, ia juga mampu memuncakkan segala kegembiraan kita dengan sebuah perasaan terharu. Di samping itu, ia bersama kelenjar air mata adalah pelengkap dari keseluruhan tubuh yang kompleks.

Manusia ideal, hemat saya, adalah seperti air mata tersebut. Ia tidak harus selalu terlihat dari luar. Meskipun manusia ini kecil, dianggap orang tidak berguna, dan lain sebagainya, namun ingatlah bahwa manusia sekecil apapun pada hakekatnya telah melengkapi sebuah sistem yang kompleks.

Tanpa adanya air mata, maka tubuh manusia itu bisa dianggap tidak normal. Begitu pula dengan kita. Kita harus bisa menyugestikan diri kita bahwa lingkungan yang kompleks ini tanpa kehadiran kita adalah sebuah lingkungan yang tidak normal. Sekecil dan setidak berharga apapun kita di mata orang, kita harus bisa meyakinkan diri kita bahwa tanpa kita, lingkungan ini tidak akan pernah lengkap.

Lalu, sebagai manusia ideal, apa yang seharusnya kita perbuat?

Berdasarkan filosofi air mata, maka apa yang harus kita perbuat adalah memuncakkan kegembiraan dan menjadi penenang saat terjadi kekacauan atau kesedihan dalam lingkungan kita.

Ketika lingkungan yang kompleks ini dalam keadaan yang sukses, maka kita juga harus terus ikut mendorong kesuksesan tersebut dan jangan dibiarkan terbengkalai. Begitu pula sebaliknya. Ketika lingkungan ini sedang dalam keadaan yang sulit, kita harus mampu muncul untuk menjadi seorang penenang.

Kita memang tidak harus terus terlihat dari luar. Kita juga tidak harus terus menjadi orang yang berpengaruh secara dominan terhadap sistem ini. Berdasarkan filosofi yang saya buat ini, kita hanya perlu untuk menjadi seorang yang biarpun kecil dan sering tidak dianggap, namun mampu untuk memuncakkan kesenangan dan juga meredakan kekacauan serta menjadi penenang di kala kesedihan pada sistem ini muncul. Karena diri kita yang kecil ini, kita perlu untuk meyakinkan diri kita bahwa lingkungan tanpa kehadiran kita adalah sebuah lingkungan yang tidak lengkap. Dengan begitu, kita akan dengan sendirinya mampu untuk menjadi manusia ideal dalam lingkungan sekitar kita.

Ketidakdewasaan Lembaga Legislatif Kita

Kita memilih wakil rakyat untuk duduk di kursi legislatif tentunya dengan suatu asumsi bahwa mereka memiliki kompetensi yang lebih dari kita yang tentunya akan bisa membimbing mereka untuk bersikap lebih beradab.

Hampir bisa dipastikan bahwa dalam lubuk hati setiap masyarakat Indonesia, selalu mengharapkan keadaan lembaga legislatif yang baik, yang mampu mengakomodasi seluruh aspirasi masyarakat demi terciptanya Indonesia yang lebih baik.

Namun, harapan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan lembaga legislatif yang baik nampaknya masih sangat jauh dari kenyataan. Realita menunjukkan bahwa semakin hari keadaan lembaga legislatif kita tidak juga cenderung membaik.

Bukan keadaan ruangan atau gedung lembaga legislatif nya yang tidak baik, melainkan orang-orang yang duduk didalamnya yang membuatnya nampak buruk. Mungkin ada yang berkata bahwa ini hanyalah pekerjaan oknum-oknum tertentu. Namun perlu diingat bahwa sikap anggota dewan seperti itulah yang mencoreng keseluruhan lembaga legislatif. Seperti kata pepatah: karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Ketidakdewasaan

Sebagian (besar) anggota lembaga legislatif hingga sekarang masih saja memiliki ketidakdewasaan dalam bersikap. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa lembaga legislatif seringkali dicap buruk oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Ketidakdewasaan sikap itu tercermin dari perilaku mereka selama mereka menjabat menjadi wakil rakyat. Korupsi, misalnya, menjadi contoh nyata bagaimana sikap mereka yang tidak cenderung dewasa ketika dengan sadar mencuri uang rakyat demi keuntungan pribadi semata. Seandainya mereka sudah dewasa, tentunya mereka bisa menilai bukan hanya dari kacamata pribadi, melainkan dari kacamata nurani mengenai baik atau buruknya korupsi.

Contoh lainnya yang bisa menjadi catatan penting betapa anggota lembaga legislatif kita cenderung tidak dewasa adalah perilaku bolos dan telat ketika hendak diadakan rapat. Hal ini nyata terjadi pada tanggal 14 September 2009 ketika DPR pada akhirnya harus menunda pelaksanaan pengesahan terhadap RUU tentang Kesehatan, RUU tentang Narkotika, RUU tentang Penetapan Perppu Penyelenggaraan Ibadah Haji, dan RUU tentang Keimigrasian selama kurang lebih 90 menit karena anggota yang hadir tidak mencapai kuorum.

Apakah mereka tidak menyadari tugas dan tanggung jawab mereka sebagai seorang wakil rakyat yang terpilih? Rakyat Indonesia membayar mereka dengan harapan bisa membawa negara ini berjalan ke arah yang lebih baik. Namun, bagaimana mungkin membawa bangsa Indonesia ini ke arah yang lebih baik jika ketika ingin merumuskannya saja mereka tidak ada?

Catatan penting lainnya terjadi baru-baru ini juga ketika pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk menarik draf RUU Rahasia Negara. Rapat kerja yang diadakan oleh Komisi I DPR dengan pihak pemerintah hampir saja berujung pada adu jotos seperti yang dilansir Kompas.com tertanggal 16 September 2009. Uniknya, ketegangan ini terjadi bukan antara pihak anggota legislatif dan pemerintah, namun terjadi di kubu legislatif sendiri. Masalahnya sepele yakni karena adanya sikap saling sindir yang dinilai telah mengonfrontir timbulnya sikap berang salah satu pihak.

Seseorang yang sudah dewasa tentunya memiliki pengendalian emosi yang baik. Tidak harus ketika ia merasa disindir, lantas menjadi marah dan menantang untuk menyelesaikan dengan cara adu jotos. Pengendalian emosi yang baik dan melawan sindiran dengan pemikiran yang lebih kritis dan meyakinkan tentunya akan lebih menunjukkan kedewasaan sikapnya sebagai seorang manusia.

Masalah moral

Lantas, dengan ketidakdewasaan sikap yang dimiliki oleh anggota dewan, apa yang seyogianya diperbaiki?

Masalah moral tentu menjadi PR besar yang harus diselesaikan demi memberangus ketidakdewasaan sikap anggota dewan. Perbaikan moral dapat dilakukan melalui etika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika berarti ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Berangkat dari pengertian ini, maka dapat terlihat dengan jelas pentingnya untuk mempelajari dan memahami etika serta mengaplikasikannya. Dengan begitu diharapkan anggota lembaga legislatif lebih mampu untuk menilai mana yang baik dan buruk, mana yang hak dan mana yang kewajiban mereka.

Namun penulis yakin bahwa setiap anggota lembaga legislatif pasti pernah mendapatkan etika melalui pelajaran sewaktu dia bersekolah atau melalui pergaulannya sehari-hari. Hanya saja, pengaplikasiannya masih sangat minim sebab terbentur banyak kepentingan dan tertutupnya hati nurani. Oleh sebab itu, penajaman hati nurani juga menjadi hal yang substansial.

Beretika dan memiliki hati nurani yang tajam tentunya dapat dilakukan -secara dominan- melalui diri sendiri. Semoga untuk ke depannya, anggota lembaga legislatif terpilih mau untuk mengaplikasikan etika dengan sungguh-sungguh serta memiliki hati nurani yang tajam. Ini semua demi bangkitnya citra positif lembaga legislatif Indonesia di mata rakyatnya sendiri.

Mampukah Agama Menjawab Tantangan Karl Marx?

Banyak orang berpendapat bahwa agama dipergunakan untuk memuluskan jalan bagi jiwanya ketika sudah lepas dari tubuhnya. Agama disini hanya dipandang sebagai sebuah tiket emas yang akan menjamin bahwa siapa yang teguh berpegang pada ajaran yang telah diwahyukan, akan mendapat imbalan berupa tempat di nirwana.

Pandangan ini tidak salah, namun dalam dunia yang sekuler ini agama pun juga seyogianya bisa ditempatkan sebagai jawaban atas segala realita kehidupan yang terjadi, terutama yang menyangkut masalah sosial.

Menjawab Karl Marx

Karl Marx pernah berkata bahwa agama adalah candu rakyat. Bagaimana kita bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Marx dengan agama sebagai candu?

Tentunya kita sudah paham bahwa barang-barang yang tergolong narkotika dan obat-obatan terlarang dapat menyebabkan kecanduan ketika kita mengkonsumsinya dengan cara yang salah. Kecanduan ini ditimbulkan karena efek semu berupa rasa senang sesaat. Sekali kita mencoba lepas dari obat-obatan tersebut, maka kita teramat rindu dengan efek senang semu dari obat tersebut. Dan yang menjadi catatan penting adalah banyak dari pengguna barang-barang ini adalah mereka yang masalahnya seperti tidak berujung.

Hal ini berlaku pula bagi agama di zaman Marx. Baginya, agama di zamannya tidak lebih dari sesuatu yang hanya menawarkan kesenangan sesaat tanpa memberikan banyak solusi berarti terhadap berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakatnya di zaman itu. Dengan janji-janji surga, penebusan yang akan segera datang, agama hanya berperan seperti candu yang memberikan kenyamanan sesaat namun tidak pernah bisa menyelesaikan masalah apapun.

Agama yang seperti ini tentu saja hanya akan mampu mengakomodir kepentingan kelas-kelas borjuis dan penguasa. Kelas-kelas berjuis dan penguasa pada hakekatnya sudah hidup dengan cukup mapan dan tidak mengalami ketertindasan apapun. Oleh sebabnya, mereka tidak lagi membutuhkan apa yang disebut dengan “hiburan semu”.

Lain halnya jika agama ini dilihat dari kacamata mereka yang tertindas secara ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Bagi mereka, agama ini berperan sebagai penyelamat yang nantinya akan membebaskan mereka dari ketertindasan dan melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang telah menindas mereka. Daripada bergulat dengan kejamnya hidup, mereka lebih memilih untuk menyandarkan diri kepada agama yang dinilai dapat memberikan sebuah penghiburan terhadap ketertindasan.

Kondisi ini menyebabkan kaum-kaum yang tertindas cenderung acuh terhadap realita yang dihadapinya dan akhirnya tidak akan pernah bisa mengubah keadaan apapun, sebab tidak ada unsur perjuangan apapun yang hendak mereka lakukan.

Di zaman sekarang, menurut saya, kritik Marx ini masih merupakan sebuah pekerjaan rumah. Memang, di satu sisi kita mulai dapat melihat agama yang merangkul mereka yang miskin dan menderita, menjadikan mereka seorang yang bebas dan merdeka, serta memberikan pelayanan yang memadai bagi mereka.

Namun realita menunjukkan bahwa di sisi yang lain, agama hanya digunakan sebagai alat yang dapat menjanjikan tempat di nirwana bahkan dengan cara melakukan kegiatan terorisme, perang atas nama Tuhan, dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini tentu saja tidak menyelesaikan masalah sosial yang ada, melainkan hanya memperburuk keadaan.

Bagi saya, isu-isu yang mengklaim bahwa agama yang satu lebih baik dari yang lain, agama A lebih menjamin surga daripada agama B, sudah tidak lagi relevan dengan realita sosial yang terjadi sekarang ini. Agama yang ada harus bisa untuk membangkitkan masyarakat yang tertindas, memanusiakan mereka, dan bukannya sibuk dengan doktrin masing-masing.

Setiap agama kini dihadapkan pada masalah sosial yang sama yakni kesejahteraan masyarakat yang tidak cenderung membaik serta kemerosotan moral. Sekarang tinggal bagaimana agar agama itu bisa berperan untuk turut serta memperbaiki kesejahteraan serta moral masyarakat, bukannya hanya memberikan “hiburan-hiburan semu.” Sudah saatnya bagi agama untuk menjawab tantangan Karl Marx, jika memang tidak ingin kembali dicap sebagai “penghibur semu.”

Bandung Sebagai Jakarta Kedua (?)

Sebuah pertanyaan besar sedang menanti untuk dijawab. Akankah kota Bandung akan menjadi Jakarta kedua?

Hampir bisa dipastikan semua orang dari seluruh pelosok Nusantara mengetahui kota yang bernama Jakarta, ibukotra dari Republik Indonesia. Bagi mereka yang belum pernah menapakkan kakinya di kota ini, pikiran pertama yang hampir bisa dipastikan muncul yakni sebuah anggapan bahwa Jakarta nerupakan kota yang maju dan modern. Pandangan ini tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya lengkap.

Jakarta yang berpredikat sebagai ibukota Indonesia memang memiliki kemajuan yang luar biasa dari segi pembangunan infrastruktur jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Namun, Jakarta memiliki kekurangan terutama dalam hal penataan kota. Permasalahan utama yang muncul di ibukota ini adalah minimnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta keberadaan permukiman-permukiman kumuh (slum area) yang memnuhi setiap sudut kota Jakarta. Bahkan tidak jarang permukiman-permukiman ini berdempetan dengan gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak di jantung kota Jakarta.

Permasalahan-permasalahan utama semacam ini telah memberikan dampak negatif bagi Jakarta sendiri. Bencana alam seperti banjir telah menjadi bencana tahunan yang harus dihadapi setiap warga ibukota. Hal ini disebabkan karena tidak adanya air hujan yang mampu diserap, sebab lahan kosong yang notabenenya bisa dimanfaatkan untuk pembuatan RTH telah habis digunakan untuk mengadakan pembangunan infrastruktur.

Minimnya RTH juga telah menyebabkan intrusi air laut di Jakarta yang akhirnya berujung pada permasalahan baru, yakni pencemaran air tanah. Selain itu, ketiadaan RTH yang cukup, juga membuat polusi udara semakin tidak terkendali yang juga diperparah dengan penggunaan kendaraan bermotor yang semakin marak.

Bandung sebagai tujuan

Keadaan Jakarta yang buruk jika dilihat dari segi kualitas udara, menjadi salah satu penyebab mengapa warga Jakarta pada akhirnya berusaha untuk mencari tempat lain yang memiliki kualitas udara yang lebih baik dan tentunya tidak sepanas di Jakarta.

Alhasil, kota Bandung terpilih sebagai tujuan utama. Selain dipilih karena kesejukan udaranya, Bandung juga dipilih karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dan tentunya akan terasa sangat dekat dengan kehadiran Tol Cipularang sekarang.

Migrasi semacam ini tentu memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif yang bisa didapat yakni meningkatnya pendapatan daerah kota Bandung dari sektor pariwisata, sebab para wisatawan yang berkunjung ke Bandung hampir bisa dipastikan akan menghabiskan sejumlah uangnya untuk biaya akomodasi.

Sedangkan di sisi lain akan muncul dampak negatif, yakni terdorongnya para konglomerat maupun kaum bermodal lainnya untuk saling berlomba membangun fasilitas penunjang bagi para wisatawan, seperti hotel, restoran, tempat perbelanjaan modern, dan lain sebagainya. Sayangnya, pembangunan semacam ini sering tidak memedulikan keberadaan RTH yang ada di Bandung. Akibatnya, Bandung yang ada sekarang sudah tidak lagi sejuk seperti sediakala dan cenderung semrawut yang ditandai dengan kemacetan yang sering terjadi di beberapa titik di kota Bandung.

Data yang dimuat pada harian Kompas Jawa Barat tanggal 27 Agustus 2009 menyebutkan bahwa luas RTH yang ada di kota Bandung saat ini hanya berkisar 1484,83 hektar atau hanya sekitar 8,87 persen dari luas total kota Bandung yang mencapai 16.729 hektar.

Hal ini tentu sangat jauh dari kata memadai. Konferensi Bumi yang diadakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada tahun 1992 menyebutkan bahwa idealnya saebuah kota besar harus memiliki luas RTH minimal tiga puluh persen dari luas total wilayahnya. Jika merujuk pada konferensi ini, maka kota Bandung seharusnya memiliki RTH seluas 5018,7 hektar atau sekitar tiga kali lebih banyak dari yang ada saat ini.

Namun nampaknya, hal ini masih sangat jauh dari kenyataan mengingat pembuatan RTH seringkali terbentur berbagai kepentingan terutama terkait dengan masalah biaya mulai dari biaya pembebasan lahan hingga biaya perawatan RTH itu sendiri. Padahal, kebutuhan RTH untuk kota Bandung ini sudah terbilang sangat penting. Pembangunan yang tidak disertai dengan keberadaan RTH yang cukup, terbukti hanya akan menimbulkan berbagai masalah seperti yang terjadi di Jakarta. Bukan tidak mungkin jika pada akhirnya kota Bandung akan mengalami kekurangan air bersih karena air tanah yang ada telah disedot habis oleh pihak-pihak yang mengedepankan rasa egoisnya.

Selain itu, dengan RTH yang tidak memadai, maka lahan untuk berekrteasi grtais juga akan semakin berkurang dan kota Bandung juga akan kekurangan penyaring dan pendingin udara alaminya yang tentunya akan membuat Bandung tidak bisa lagi menjadi sejuk seperti sediakala.

Dukungan masyarakat dan pemerintah

Memang, untuk merealisasikan RTH sebesar tiga puluh persen bukanlah perkara mudah. Kita juga tidak bisa begitu saja menjustifikasi pemerintah kota Bandung yang salah. Ini merupakan tanggung jawab seluruh warga Bandung, bukan hanya pada pemerintah kota Bandung saja.

Menggalakkan penghijauan di lingkungan sekitar rumah bisa menjadi salah satu alternatif yang cukup mudah dilaksanakan. Selain itu, membuat sumur resapan juga bisa menjadi alternatif yang cukup baik untuk menampung air hujan sehingga air itu tidak mengalir sia-sia, melainkan terserap kembali ke dalam tanah.

Pemerintah kota Bandung pun sudah seyogyanya untuk berani mengambil keputusan dan tindakan nyata terkait maslaah minimnya keberadaan RTH ini. Pemkot Bandung harus berani untuk mengalokasikan dana yang ada untuk pembuatan RTH. toh, harganya nanti akan terbayar dengan kembalinya Bandung menjadi kota yang asri dan tidak semrawut. Selain itu, perlu juga dibuat peraturan-peraturan yang lebih tegas perihal pembangunan dan tata kota di Bandung.

Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah kota Bandung dalam penanganan masalah ini perlu untuk dilakukan. Jika tidak, kita hanya akan bisa merasakan kota Bandung yang sama panas dan semrawutnya dengan kota Jakarta.