Menjadi Murid-murid Kebenaran di Indonesia

“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan maka : percayalah, jika engkau ingin menjadi murid kebenaran maka : carilah !” Itulah salah satu penggalan ucapan Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang sangat terkenal dengan pemikirannya mengenai kematian tuhan.

Kalimat ini memang sudah berumur hampir satu setengah abad dan terjadi ketika Nietzsche sedang berdiskusi dengan ibunya melalui serat-menyurat dikarenakan Nietzsche memutuskan untuk tidak lagi belajar teologi di Universitas Bonn. Kalimat ini sendiri menggambarkan betapa hebat pergolakkan batin yang terjadi dalam diri Friedrich Netzsche sendiri, karena di satu sisi ia hidup dalam sebuah keluarga yang taat beragama dan di sisi yang lain ia adalah seorang penggembara padang kebenaran, hidup untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya.

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah relevansi perkataan Nietzsche ini dengan kehidupan berbangsa dan bernegara kita?

Sepatutnyalah kita menyadari bahwa selama ini masih banyak di antara kita yang tidur, dibelai oleh usapan sayang otoritas-otoritas mereka yang berkuasa. Kita didongengkan sebuah cerita indah, sebuah cerita tentang negeri yang diapit dua benua dan dua samudera dan dimana negeri itu memiliki aneka-macam kekayaan alam, kekayaan budaya, dan kesejahteraan rakyat di dalamnya yang mereka nilai terus meningkat. Sebuah dongeng indah untuk mengantarkan kita tidur, terlelap dalam bayang-bayang keindahan negara itu dengan sistem demokrasi yang diceritakannya juga. Ya, itulah mereka yang disebut kalangan “percaya.”

Namun, ada sebagian di antara kita yang kemudian bertanya-tanya tentang kebenaran cerita tersebut. Mereka adalah orang-orang kritis yang tidak tidur dan terbuai oleh omongan kosong sang pendongeng. Mereka ingin membuktikan apakah betul ada sebuah negeri demikian yang semuanya berlangsung tertib dan aman tanpa ada anomali yang segnifikan. Merekalah penerus Nietzsche, menjadi murid-murid kebenaran, penggembara padang kebenaran untuk membongkar realitas-realitas kehidupan.

Dan ternyata, murid-murid kebenaran ini harus berjalan pada sebuah kekecewaan yang mendalam, karena ternyata apa yang sudah didongengkan itu hanyalah sebuah kebohongan. Setelah mereka menapaki kenyataan dari ujung barat hingga timur negeri itu, mereka mulai menyadari bahwa yang nampak di sana hanyalah sekumpulan masalah tentang ketidakadilan, korupsi, monopoli kebenaran, pelanggaran hak asasi manusia dan lain sebagainya.

Ini adalah sebuah kenyataan dan memang sangat bertolak belakang dengan apa yang telah didongengkan sebelumnya. Ketidakadilan terjadi pada Prita -meskipun pada akhirnya ia bebas- bahkan hingga uang koin dijadikan sarana untuk mendukung Prita menghadapi tuntutan sebuah ketidakadilan.

Belum lagi permalsalahan HAM yang terjadi di Papua, ujung timur Indonesia. Hal itu semata-mata karena mereka berteriak meminta kesejahteraan dan penghidupan yang layak. Mereka ingin dihargai sebagaimana mereka adalah manusia. namun yang terjadi adalah sebaliknya, mereka didiskriminasi. Kekayaan alam mereka dikeruk bahkan bukan untuk diri mereka sendiri. entah untuk siapa, mungkin orang lain di luar pulau sana.

Bisa saja petinggi-petinggi Indonesia ini berkata bahwa kekayaan itu untuk menambah cadangan devisa negara. Namun, orang-orang percaya akan kembali tidur karena mereka hanya sebatas percaya dengan buaian itu! Namun, setelah dikaji secara mendalam, kehancuran alam yang lebih parah ternyata terjadi di sana tanpa adanya tanggung jawab yang pantas yang hendak diberikan. Kembali, murid-murid kebenaran menelan kekecewaan.

Membangunkan mereka

Apa yang harus kita lakukan? Substansinya adalah menghentikan semua dongeng-dongeng pengantar tidur ini. kita harus bisa membeitakan pada semua rakyat Indonesia bahwa kita belum senang dan kita tidak pantas untuk tidur nyenyak. Bagi kita yang mau duduk-duduk sembari merokok lebih baik tidak usah mengaku bagian dari Indonesia, tidak terkecuali para petinggi di Indonesia ini.

Seperti yang diajarkan Nietzsche bahwa kita harus berkata “ya” pada kehidupan yang ganas ini. Oleh karenanya, kita harus berani untuk berkata, “Ya, Indonesia ini belum sejahtera. Dongeng itu harus segera dihentikan dan mari kita hadapi bersama Indonesia yang hancur ini sebeum akhirnya hancur tanpa sisa sama sekali.”

Transparansi. Kita membutuhkan transparansi dari seluruh petinggi Indonesia ini tentang keadaan yang sebenarnya. Kita membutuhkan suatu cerita tentang keadaan Indonesia yang sesungguhnya, tanpa ada suatu tanda baca apapun yang dikurangi. Dengan transparansi, kita bisa menilai kinerja petinggi-petinggi kita apakah sudah sesuai di jalurnya atau belum.

Yang kedua adalah kepedulian. Selama kita masih menutup hati kita terhadap sesama dan menenangkan diri dengan dongeng-dongeng kosong, selama itu pula kita tidak akan tahu tentang kebenaran. Ingatlah kalimat Nietzsche bahwa kebenaran ini diperoleh dengan mencarinya, bukan dengan bersikap acuh dan hanya percaya bahwa semuanya berjalan dengan sangat baik.

Yang ketiga dan terpenting adalah kita perlu seorang pemimpin yang tidak suka mengumbar ketakutannya di hadapan umum. Jika kita sudah mengetahui bahwa kebenaran di Indonesia itu sungguh mengerikan, maka siapapun yang memimpin Indonesia ini bukanlah seorang yang hanya pintar mencitrakan diri namun takut menghadapi realitas.

Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang berani berkata bahwa “Ya, Indonesia ini masih sangat rusak dan dengan demikian inilah yang harus kita hadapi bersama.” Bukannya seorang pemimpin yang hanya bisa berdongeng dan berkata, “Tenang, semuanya akan berjalan baik-baik saja.”

Itulah kebenaran di Indonesia, sesuatu yang ternyata sangat mengerikan namun kita harus bisa menghadapinya, bersama dan tidak sendiri, demi menjadi murid-murid kebenaran di Indonesia ini.

Advertisements

Berlayarlah Indonesiaku!

Indonesia itu tidak berani berlayar. Itulah yang selalu ada dalam pikiran saya. Padahal kapal sudah ada, lengkap dengan segala cadangan-cadangannya jika saja suatu saat kapal itu hendak karam atau ada barang satu atau dua komponen yang rusak. Indonesia itu punya semua! Angin sudah berhembus menuju samudera, layar sudah mengembang, sayang nahkoda dan awaknya tidak bersinergi dengan baik.

Mengapa gerangan ini terjadi? Tidak beranikah kau, Indonesia, melepas jangkarmu? Melepas tali tambatmu pada pulau-pulau penghasil buaian mimpi-mimpi semu pencipta kemalasan dan keegoisan? Awak itu sama dibodohinya dengan nahkodanya. Tidak juga disejahterakan, tidak juga didik dengan baik. Mungkin, awak itu tidak mengerti bagaimana cara melepas jangkar, atau bahkan juga tidak mengerti bagaimana mengembangkan layar? Atau bahkan, perlu jugakah diajari bagaimana melepas tali yang menambat kapal?

Indonesia, tali-talimu itu tertambat dimana-mana. Bukan hanya pada pulau-pulau penghasil mimpi semu saja, namun juga pada pulau-pulau penghasil ketenangan, pencipta modal kerja, pengeruk cadangan-cadangan yang seharusnya bisa kau gunakan untuk bekal berlayar, serta pulau-pualau lainnya. Tidakkah kau sanggup, Indonesia, untuk melepas tali-tali itu? Wahai nahkodaku! Ajarilah anak buahmu melepas tali-tali itu semua! Masih sampai kapan hendak kau tambatkan kapal ini di antara pulau-pulau sial penghasil kehancuran? Tidakkah kau tahu bahwa ombak masih akan lebih baik daripada pulau-pulau itu? Terjanglah ombak, kawan, bukan mendiamkan dirimu disana, tertambat diam terpaku mengharapkan sesuatu yang sebenarnya hampa.

Sadarlah, kawan! Kita ini sedang dibodohi, digerogoti sedikit demi sedikit sampai akhirnya orang-orang di pulau itu yang melepas talinya terhadap kapal kita. Mengapa? karena tiada lagi yang dapat mereka keruk, kawan. Maukah kau berlayar tanpa cadangan apapun? Bahkan tidak dengan sebatang kayu untuk menangkap ikan menjadi bekal untuk anak buahmu! Jangan dibodohi oleh pulau-pulau sial itu. habis dikeruk, habislah kita. mau berlayar dengan apa? Bermodal semangat di tengah samudera yang ganas? Suatu saat kita akan menyerah karena memang tidak ada lagi yang bisa mempertahankan kita.

Wahai nahkoda, jangan hanya bertingkah seperti mandor memandang anak buahmu seperti budak. Ingatlah, kita ini masih budak. Tali dan jangkar kita saja belum lepas dari bibir pantai pembuai penimbul kesenangan semu. Statusku dan statusmu itu tiada beda. Kita semua masih budak. Meski aku hanya anak buah kapal dan kau adalah nahkodanya. Tapi siapa yang mengendalikan kita? Manusia-manusia diluar sana! Manusia-manusia di pulau itu yang mengendalikan kita! lalu, apa beda kita dengan budak? Baiklah statusmu lebih tinggi di kapal ini, namun di mata orang lain tetaplah sama, kita itu masih budak, tidak lebih dan mungkin bisa menjadi lebih kurang.

Sejahterakan anak buahmu, didiklah mereka. Siapapun mereka. Kulit hitam kulit putih. Zaman kolonial itu tidak lagi menyelimuti Indonesia ini. tidak bisa kau tempatkan satu kelas lebih tinggi dari yang lainnya. semuanya itu sama dan tiada beda. Didiklah mereka agar kelak bisa melepas tali-tali itu, tali-tali yang menambat kapal ini untuk pergi ke samudera.

Takutkah kau ke samudera, nahkodaku? Kalau kau takut, lebih baik kau mundur. Masih ada ratusan juta orang yang siap menggantikanmu membawa Indonesia ini berlayar menuju samudera menantang derasnya arus dan ganasnya ombak.

Indonesiaku, Indonesiaku. Cepatlah kau berlayar sebelum semua cadangan-cadanganmu itu habis. Lepaskanlah tali-tali yang menambatmu itu. bangunlah nahkodaku! Bangunlah saudara-saudaraku! Kita ini masih terbuai kenikmatan dari orang-orang di pulau-pulau sial sana. Mari ciptakan kesenangan kita sendiri. kesenangan dalam menerjang samudera yang ganas, bertahan hidup, menciptakan sesuatu yang lebih baik untuk Indonesia ini. kapal ini tidak akan tenggelam, kawan, selagi kita bersama-sama diberikan perbekalan yang cukup. Pendidikan, sumber daya, dan lain sebagainya. cepatlah nahkodaku, bangun itu semua. Kita harus segera berlayar menantang kehidupan yang lebih ganas, menemukan pulau yang terbaik untuk menambatkan Indonesia ini, sebuah pulau bernama kesejahteraan.

Ketika Manusia Tak Lagi Bernurani

Manusia ada sebagai sesuatu yang unik, berbeda dengan makhluk yang lainnya. Perbedaan itu nampak terutama dalam keberadaan intelegensia dan hati nurani. Dimana dengan keberadaannya menjadikan manusia sebagai makhluk yang mampu berpikir, bertindak, menimbang, berperasaan, serta hal-hal lainnya. Dua hal tersebut, intelegensia dan hati nurani, seyogianya bisa berjalan bersama untuk menciptakan manusia yang ideal.

Intelegensia dan hati nurani

Pada dasarnya, intelegensia bertugas untuk memenuhi kodrat manusia dalam hasratnya untuk menyempurnakan dirinya sendiri. Dengan intelegensi yang dimilikinya, manusia akan terus bertanya tentang suatu hal, berusaha untuk mendapatkan jawaban yang paling sempurna terhadap pertanyaannya. Nampak jelas bahwa manusia selalu berusaha untuk menyempurnakan dirinya dan hal ini akan menjadi absurd ketika manusia tidak memiliki intelegensi.

Hati nurani berbeda dengan intelegensia. Ia bertugas untuk menjadi pedoman dalam segala hal, mendorong melakukan sesuatu jika itu baik dan menahan melakukan sesuatu jika hal itu buru, dan akhirnya memberikan sebuah justifikasi apakah kita telah melaksanakan sesuatu dengan benar dalam sebuah situasi yang konkret. Jika benar, maka perasaan baiklah yang muncul dan jika salah, maka perasaan tidak enaklah yang dominan.

Berangkat dari penjelasan ini, kita bisa melihat bahwa ada kalanya intelegensia dan hati nurani bersinergi, yakni ketika hasrat manusia untuk menyempurnakan dirinya berjalan pada arah yang benar. Namun, ada kalanya juga ketika dua hal ini menjadi paradoks satu sama lain, yakni ketika hasrat seorang manusia untuk menyempurnakan diri telah keluar dari jalur batas yang disebut baik. Pada kondisi ini, hati nurani akan bertugas untuk menahan hasrat tersebut agar tidak dilakukan sebab pada akhirnya bisa menjerumuskan si subjek pada keadaan yang merugikan.

Individualitas intelegensia

Namun, seringkali manusia terjebak dalam euforia intelegensia sehingga kodratnya yang seharusnya juga terpenuhi melalui hati nurani menjadi sirna. Hati nurani dengan sengaja diinggal di belakang dan ia pun berteriak agar dirinya tidak ditinggal, namun kita semua menutup telinga seolah tak mendengar dan kemudian berkata kepada diri sendiri, “Semua baik-baik saja. Langkahku adalah langkah seorang yang berintelegensia, mencari sebuah kebenaran dan kesempurnaan.”

Memang, hasrat manusia untuk mencari kesempurnaan tidak bisa begitu saja dihentikan sebab itu adalah kodrat manusia sebagai makhluk yang haus akan sebuah kesempurnaan. Namun, kita seringkali lupa prinsip fundamental bahwa kesempurnaan itu tidak bisa ditemukan di dunia ini. Kesempurnaan itu adalah sebuah kenihilan dan hanya merupakan sebuah asa kosong. Oleh sebabnya kita memerlukan hati nurani yang berperan untuk menjaga agar jangan sampai kita terperosok dalam sebuah lubang kenihilan tersebut.

Namun, kita seringkali dibutakan oleh sebuah keyakinan bahwa dengan intelegensi yang kita miliki, kita tidak akan terperosok dalam sebuah lubang kenihilan. Inilah awal dari sebuah kesombongan dan jalan menuju sebuah kehancuran.

Refleksi

Setelah kita menyadari bahwa kita dilengkapi dengan intelegensi dan hati nurani, kita patut bertanya, sudahkah kita menggunakan keduanya secara tepat? Ataukah kita hanya cenderung mengejar sebuah kesempurnaan tanpa memikirkan hati nurani?

Jika kita membuka hati nurani kita, menyadari segala realitas sosial di sekitar kita, akan nampak jelas bagaimana kita telah berjalan hanya dengan intelegensi tanpa nurani. Kita selalu mengejar sebuah kesempurnaan duniawi melalui proses pengayaan diri sendiri melalui berbagai cara, dan korupsi menjadi salah satu cara yang paling menjanjikan. Kita selalu mengejar kesempurnaan spiritual dengan cara yang salah sehingga hanya terus berdoa dengan khusuk tanpa memerhatikan siapa disekitar kita yang membutuhkan bantuan kita. Kita hanya sibuk dengan dunia telepon selular, blackberry, internet, chatting dan lain sebagainya sehingga kita lupa untuk menyentuh kakek-nenek kita, saudara-saudara kita. Tidakkah kita sadar bahwa sentuhan langsung memiliki arti yang lebih daripada sekedar berkomunikasi lewat dunia maya? Kita hanya mengejar kesempurnaan nilai-nilai ujian tanpa memerhatikan bagaimana karakter itu seharusnya dibentuk. Kita hanya dan hanya terjerumus dalam mengejar kesenangan dan kesempurnaan intelegensia dan ternyata sekarang kita telah kehilangan kodrat kita sebagai makhluk yang bernurani.

Hingga kapan ini terjadi? Hingga kita mau membuka telinga kita, mendengar teriakan hati nurani yang telah kita tinggalkan dan mengajaknya berjalan bersama menapaki hidup.