Perbedaan yang Membanggakan dan Memersatukan

Sebuah pertanyaan sederhana terlontar dalam pikiran. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah negara bernama Indonesia? Mungkinkah ada sesuatu yang bisa dibanggakan di tengah berbagai masalah tentang ketidakadilan, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, dan lainnya yang sedang melanda?

Nurani ini kemudian diam, merenung memikirkan sebuah jawaban. Sebuah kata muncul. Perbedaan. Ya, itulah satu-satunya yang bisa dibanggakan, satu-satunya yang kemudian juga seyogyanya dipelihara, untuk kemudian dijaga eksistensinya agar tidak hilang di telan zaman yang semakin ganas.

Disadari sejak dulu

Dirunut dari sejarahnya, nampaknya founding fathers kita sudah menyadari tentang adanya perbedaan yang kemudian akan menghiasi negeri yang mereka dirikan ini.

Hal ini dapat kita lihat pada lambang negara kita, Burung Garuda, yang sedang membawa sebuah tulisan bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika.” Para pendiri negara kita ini telah menyadari bahwa negeri ini dipenuhi berbagai keragaman, oleh karenanya ada kata “bhinneka” disana. Namun, mereka juga menyadari bahwa perbedaan itu ada bukan sebagai pemecah belah, namun ada sebagai sebuah alat yang memersatukan. Sebab, jika perbedaan itu tidak mampu untuk bersatu, maka tidaklah mungkin ada sebuah negara yang bernama Indonesia di peta dunia. Yang ada hanyalah sebuah negara kolonial bernama Hindia Belanda.

Inilah mengapa perbedaan itu begitu saya banggakan. Perbedaan itu ternyata ada sebagai sebuah substansi pembentuk negara Indonesia ini. Bukan hanya berdiri sebagai sebuah substratum, lebih jauh lagi ke depannya ia ternyata juga berdiri sebagai sesuatu yang juga memperkaya Indonesia ini sendiri.

Betapa tidak, warga mancanegara begitu terpukau ketika melihat betapa beranekaragamnya kebudayaan yang kita miliki. Masing-masing daerah dari Sabang sampai Merauke memiliki rumah dan pakaian adatnya masing-masing. Belum lagi senjata, tarian, lagu-lagu, bahas, serta adat-istiadat yang juga melengkapi keunikkan masing-masing daerah.

Meskipun pada awalnya Indonesia memang nyaris berdiri sebagai sebuah negara agama, namun pada akhirnya kenyataan itu dapat dihindarkan. Pada akhirnya, Indoensia juga berdiri sebagai sebuah negara yang mengakui adanya agama yang berbeda-beda yang bebas untuk dipilih dan dianut oleh setiap warga negaranya tanpa paksaan apapun dan dilindungi kebebasannya oleh Undang-Undang Dasar 1945 sendiri.

Perbedaan agama yang dimiliki setiap warga negara juga turur memperkaya Indonesia. Di satu sisi kita dapat melihat sebuah Masjid dengan suara adzannya yang begitu khas karena dikumandangkan setiap lima kali sehari. Di sisi yang lain, kita bisa melihat Gereja dengan lagu-lagu kebaktiannya yang berkumandang seminggu sekali. Dan di sisi yang lainnya lagi, ada juga sekumpulan kuli yang berdiri dengan ukiran-ukiran dan patung-patungnya. Betapa indah perbedaan itu.

Lebih jauh lagi, setelah melewati masa otoriter, kita juga bisa melihat berbagi tulisan mandarin yang sarat dengan nuansa kaligrafinya. Memang, sebelumnya hal ini sempat dilarang. Namun, setelah zaman otoriter itu selesai, kita bisa melihat betapa hal ini juga turut memperindah wajah Indonesia.

Tidak jarang rapuh

Namun, seringkali perbedaan ini tidak mendukung terjadinya sebuah kekayaan bangsa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi karena ada oknum-oknum di kalangan rakyat Indonesia sendiri yang seringkali tidak bisa menerima perbedaan sebagai sesuatu yang indah dan juga karena adanya ketidakadilan yang dirasakan beberapa kalangan karena kecemburuan sosial.

Kita bisa melihat bagaimana konflik antaragama masih sering terjadi. Perebutan lahan untuk pembangunan tempat ibadah yang seharusnya tidak perlu terjadi, masih saja terjadi. Kejadian yang akhir-akhir ini terjadi adalah pembakaran Gereja St.Albertus di Bekasi. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata memang masih ada oknum-oknum yang tidak suka dengan adanya toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Keindahan perbedaan ini pun turut juga terancam ketika adanya “diskriminasi” yang terjadi di kalangan saudara kita di timur sana. Ketika kita bisa duduk dengan nikmat di bawah payung-payung modernitas dan keindahan duniawi, saudara kita disana belum sepenuhnya menikmati hal tersebut, padahal mereka memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah. Namun nampaknya, hanya sedikit yang kemudian bisa diberikan lagi kepada mereka. Entah kemana perginya semua kekayaan tersebut. Yang ditinggalkan bagi mereka hanyalah sekumpulan lahan-lahan gundul.

Maka tidak heran jika kemudian mereka ingin sekali untuk melepaskan diri dari Indonesia. Mereka merasa tidak memiliki keuntungan untuk tetap bersama dengan Indonesia. Yang terjadi hanyalah kerugian. Entah bagaimana nasib Indonesia tanpa Papua. Tidak ada lagi kebudayaannya yang akan memperkaya kebudayaan Indoensia secara keseluruhan. Itu berarti juga mengancam perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan Indonesia ini.

Tugas bersama

Inilah yang kemudian harus menjadi tugas kita bersama. Menjaga setiap perbedaan yang ada agar jangan sampai disusupi oleh oknum-oknum tertentu yang tidak senang dengan eksistensi perbedaan ini.

Selain itu, ini juga merupakan pekerjaan rumah yang penting untuk pemerintah ke depannya. Tindakan yang seolah-olah mendiskriminasi daerah tertentu harus segera dihapuskan. Bukankah semua warga Indonesia memiliki hak yang sama untuk sebuah penghidupan? Oleh karenanya, siapapun di Indonesia ini juga harus diperlakukan dengan baik dan tidak ada yang berada di atas yang lainnya. Hal ini penting untuk mencegah kecemburuan sosial dan dengan sendirinya mencegah agar tidak terjadi pemisahan sebuah dareah hanya karena merasa diperlakukan tidak adil. Perlu diingat bahwa hilangnya satu daerah berarti hilangnya sebuah keanekaragaman yang juga memperkecil kekayaan perbedaan yang dimiliki.

Sebatang alumunium yang dipatahkan hanya akan menjadi sebatang alumunium yang lain yang tidak berbeda dalam hal kualitas namun hanya dalam ukuran. Namun lihat jika sebuah raket dengan batang alumunium itu dipatahkan, maka ia betul-betul akan menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak jelas apa namanya sebab batang alumunium itu tidak bertemu dengan kawat senar dan handuk grip pada raket. Ia hanya akan menjadi sesuatu yang tidak berguna.

Begitu juga Indonesia. Ia didirikan atas berbagai perbedaan yang seharusnya saling menyatukan dan membanggakan dan menjadi jelas juga ketika perbedaan-perbedaan yang ada dihancurkan dan tidak ada dalam suatu eksistensi lagi, Indonesia hanya akan menjadi sesuatu yang tidak jelas apa namanya, bukan lagi Indonesia namanya karena tidak ada perbedaan yang saling menyatukan di dalamnya.

Kembali ke Web MuDa

Mental Terjajah dan Penjajah

Indonesia sudah lepas dari penjajahan secara fisik sejak sekitar 64 tahun lalu, namun nampaknya hal ini tidak berlaku pada ranah mental orang-orang Indonesia.

Warisan zaman penjajahan

Tiga abad Indonesia hidup dalam zaman kolonialisme memang berdampak sistemik hingga sekarang. Mental-mental yang terbentuk pada orang-orang Indonesia tidak jauh berbeda dari zaman penjajahan dulu.

Pada zaman penjajahan, orang-orang di Bumi Pertiwi ini secara umum dibagi menjadi tiga kelas Yang pertama adalah kelas penguasa yang diduduki oleh kaum penjajah, kelas kedua yang dihuni oleh orang-orang keturunan Tionghoa yang kebanyakan datang untuk berdagang, serta kelas ketiga yang ditempati orang-orang pribumi yang pada waktu itu hanya bisa berlaku sebagai budak dari para penguasa.

Keberadaan orang-orang Indonesia asli yang pada waktu itu hanya berada pada kelas ketiga tentu saja diwajibkan untuk memiliki sikap “hormat” terhadap penguasa. Hanya mereka yang kemudian berpendidikan dan bisa berpenampilan layaknya orang kelas satu pantas untuk merasa satu kelas dengan kelas satu. Namun mereka yang tetap sengaja untuk ditakdirkan menjadi budak, tetap bernaung dalam keadaan “hormat” terhadap penguasa saat itu.

Namun keadaan sekarang sudah berubah. Tidak ada lagi penjajah di Indonesia ini, tidak ada lagi pembagian kelas-kelas yang dilakukan secara eksplisit seperti zaman dahulu, tidak ada lagi kerja dan tanam paksa, dan hal-hal lainnya seperti pada zaman penjajahan dulu.

Sayangnya, keadaan yang telah berubah ini tidak turut mengubah mental-mental orang Indonesia, tidak terkecuali para pejabatnya. Kita masih hidup dalam mental orang-orang terjajah dan penjajah.

Mengapa anak-anak zaman sekarang lebih suka untuk diberikan pendidikan yang bertaraf internasional, dengan bahasa Inggris sebagai perantaranya? Bukan suatu hal yang aneh jika kemudian mereka malah lebih fasih berbahasa asing daripada berbahasa ibu mereka sendiri, bahasa Indonesia. Apa yang kemudian muncul? Sebuah kebanggaan bisa berbahasa asing namun tidak berbahasa Indonesia? Bukan sebuah hal yang patut untuk dibanggakan, namun lebih kepada memalukan.

Apakah perlu juga bagi kita untuk menghormati orang-orang Eropa jauh dariapda kita menghormati saudara kita sendiri dari Indonesia? Kita melakukan itu hanya karena ada predikat Eropa pada diri mereka. Ada predikat seseorang yang “lebih” daripada kita hanya karena pernah menguasai kita. Bukankah mereka yang seharusnya menghormati kita karena kita telah berhasil menolong mereka dari kebangkrutan? Bayangkan jika waktu itu tidak ada tanam paksa dan erja paksa. Bagaimana hendak Belanda mengisi kas uangnya yang kosong?

Inilah sebuah realitas dalam kehidupan kita sehari-hari. Mental yang kita punya masih berupa mental orang-orang terjajah. Begitu santun dan hormat setinggi-tingginya dengan orang asing, kebudayaannya, padahal kita sendiri acuh terhadap apa yang sebenarnya murni kepunyaan kita. Kita ini masih terjajah, bukan secara fisik, namun secara mental.

Selain itu, mengapa pejabat-pejabat yang ada di Indonesia lebih nampak pragmatis dengan jabatannya ketimbang melakukan sebuah pengabdian yang berarti? Memang, tidak semua pejabat dijustifikasi sebagai seorang yang pragmatis, namun banyak dari mereka yang seperti itu.

Tidak perlu jauh-jauh. Akhiir-akhir ini kita sering mendengar protes yang dilayangkan atas kebijakan pemerintah membeli mobil dinas baru dengan mesin yang lebih boros bahan bakar serta harga yang lebih mahal. Tidakkah bisa mereka melihat bahwa masih banyak diluar sana rakyat miskin dan menderita yang tidak berpendiikan? Jangankan membeli mobil 1,3 M, makan satu kali sehari saja sudah merupakan sebuah keuntungan besar bagi mereka.

Seperti inikah model pemerintahan Indonesia yang katanya menjunjung tingi Pancasila sebagai dasar negara? Padahal kita tidak bisa meihat sebuah kesejahteraan sosial di semua rakyatnya. Yang ada hanyalah kepragmatisan pejabat dengan mental penjajah.

Warisan zaman kolonial inilah yang harus dimusnahkan. Mental-mental terjajah dan penjajah harus diberangus tuntas sampai ke akar-akarnya. Tanpanya, kita tidak akan secara murni bangga dengan Indonesia. Kita hanya akan bisa menjadi orang yang bangga dengan entah apa namanya, namun yang pasti bukan bernama Indonesia.

Kembali ke web MuDa