Eksistensi Orang Lain Sebagai Subjek

Dalam relasi antarmanusia, seringkali timbul berbagai macam gesekan, perselisihan, intoleransi yang sebenarnya disebabkan oleh pengabaian salah satu prinsip fundamental dalam sebuah relasi, yakni menjadikan eksistensi orang lain bukan sebagai objek belaka, melainkan sebagai subjek.

Dalam sebuah relasi antarmanusia, kita seringkali tidak menyadari bahwa kita menganggap keberadaan orang lain sebagai objek. Hal ini seperti hubungan yang terjadi antara manusia dengan benda-benda disekelilingnya. Dalam hal ini, manusia menempatkan dirinya sebagai sebuah subjek tunggal dan sekitarnya adalah objek, dimana penilaian yang diberikan kepada objek tersebut adalah murni sebuah penilaian yang didasarkan pada dasar-dasar yang subjektif. Kita tidak pernah berdiri pada objek tersebut dan menilainya dari sudut pandangnya.

Hal serupa terjadi jika relasi antarmanusia yang terjadi adalah sebuah relasi subjek-objek. Manusia menempatkan esistensi manusia lainnya sebagai objeknya. Mereka menilai orang lain berdasarkan dasar penilaian masing-masing serta prinsip-prinsip kebenaran personal. Mereka tidak bisa berdiri di tempat orang lain itu berdiri beserta prinsip-prinsipnya. Maka dari itu, tidak heran jika dalam relasi ini seringkali timbul berbagai macam gesekan, karena masing-masing manusia tentunya memiliki standar penilaiannya masing-masing.

Relasi subjek-subjek

Sebaliknya, jika prinsip hubungan yang dibangun di masyarakat atau antarmanusia adalah prinsip hubungan subjek-subjek, maka semuanya akan menjadi berebalikkan.

Yang dimaksud dengan prinsip hubungan subjek-subjek adalah manusia menempatkan manusia lainnya bukan sebagai objek bagi dirinya, melainkan menempatkan sebagai sesuatu yang lain, yang unik, yang berbeda dari dirinya sendiri. Dalam menjadikan manusia lainnya sebagai subjek, manusia tersebut harus pertama-tama mampu berdiri sebagai manusia yang lain tersebut.

Dari penjelasan itu nampak bahwa tidak mudah dalam membangun sebuah relasi subjek-subjek. Hal ini disebabkan manusia harus bisa melepas sifat egoisnya dan mempu menjadikan dirinya seperti manusia yang menjadi pusat perhatiannya.

Selanjutnya, dengan menjadikan sesamanya sebagai subjek, yang akan timbul bukanlah sebuah monopoli kebenaran dan sudut pandang karena mereka sendiri pun sedang berdiri menjadi orang lain yang memiliki prinsip-prinsip kebenaran dan penilaian yang berbeda-beda. Dari hal ini nampak jelas bahwa jika relasi ini bisa terbangun dengan baik, maka hubungan yang akan timbul pun bukanlah sebuah hubungan yang penuh dengan gesekan dan perselisihan. Hal ini disebabkan karena masing-masing manusia mampu untuk menilai berdasarkan apa yang dianut oleh orang lain tersebut. Mereka menilai bukan dari sudut pandangnya dan ketika mereka menilai dari suut pandang orang lain tersebut, maka bisa dipastikan mereka akan menganggap sesuatu yang salah pada dirinya menjadi benar bagi orang lain atau yang benar bagi dirinya akan menjadi salah untuk orang lain. Satu sikap yang akhirnya mampu untuk dibangun dengan relasi ini adalah sikap toleransi yang merupakan sikap yang paling dijunjung tinggi daam relasi dalam keberagaman.

Keterbukaan dan pegalaman

Patut diakui bahwa dalam membangun relasi antarmanusia berdasarkan prinsip subjek-subjek sangat sulit untuk dilakukan. Seringkali manusia menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar. Padahal, kebenaran absolut tidak bisa ditemukan di dunia ini karena masing-masing memliki prinsip kebenarannya sendiri dan tentunya akan saing berkontradiksi satu dengan yang lainnya.

Hal utama yang perlu untuk membangun relasi ini adalah dengan membangun sikap terbuka dalam diri seniri. Hal ini mutlak diperlukan karena melalui keterbukaan, kita bisa menerima pendaopat orang lain, membuka cakrawala pengetahuan tentang berbagai macam prinsip kebenaran yang dianut oleh orang lain, dan sebagainya. Dengan keterbukaan pula, kita akan mampu untuk menerima keberagaman dan mengembangkan sikap toleransi.

Pengalaman juga merupakan sebuah syarat yang harus dipenuhi. Aristoteles pernah berkata bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang berpengalaman jauh lebih sukses daripada orang yang berkompetensi. Hal ini dikarenakan orang yang berpengalaman adalah mereka yang berkutat dengan segala fakta-fakta kehidupan sehingga bisa memiliki berbagai macam penilaian dari berbagai sudut dan sisi emosional. Bagaimana mungkin kita akan mampu untuk memahami dan menerima orang lain jika kita sendiri belum pernah mengalami hal yang sama dengan orang tersebut? Oleh karenanya, pengalaman juga merupakan sebuah syarat dalam menempatkan orang lain sebagai subjek.

Sungguh merupakan sebuah perjalanan panjang dalam membangun relasi subjek-subjek. Namun jika hal tersebut didukung dengan keinginan masing-masing pribad untuk mulai belajar menjadi terbuka terhadap orang lain, bukanlah sebuah hal yang mustahil untuk menjadikan relasi antarmanusia lebih baik, karena masing-masing mampu untuk menilai bukan dari apa yang dianutnya saja, melainkan dari kacamata orang yang mengalaminya sendiri.

Advertisements