Saksono Suhodo: Pengorbanan Sebagai Kunci Sukses Penghijauan

Saksono Suhodo: Pengorbanan Sebagai Kunci Sukses Penghijauan

Pintu Gerbang Pemukiman "Hijau"

Suasana hijau dan rindang akan dipastikan siap menyambut siapapun yang melangkahkan kaki masuk ke daerah RW 010, Kelurahan Cipinang Muara, Jakarta Timur ini. Lubang-lubang biopori akan segera terlihat di daerah-daerah penghijauan di pinggir jalan, ditemani tumpukan-tumpukan lumpur hasil pengerukan selokan. Semuanya ini tidak akan terealisasi jika saja seorang pensiunan Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang juga alumni planologi ITB tahun 1973 tidak turun tangan untuk memprakarsainya.

Semuanya berawal pada bulan Oktober tahun 2003. Saat itu, Bapak Saksono Suhodo dipercaya oleh masyarakat sekitar untuk menjadi Ketua RW setempat. Beliau pun akhirnya menyetujui dan memegang mandat yang dipercayakan masyarakat sekitar kepadanya. Namun, beliau mempunyai syarat tersendiri jika menjadi Ketua RW setempat.

Bapak Saksono Suhodo

Sayarat yang diajukan beliau sangat sederhana, namun nampak sangat sulit untuk diaplikasikan di tengah hidup yang begitu pragmatis. Syarat yang diajukannya adalah beliau menginginkan semua kegiatan yang berhubungan dengan RW setempat adalah kegiatan-kegiatan sosial, sebuah kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Selain itu, beliau juga mensyaratkan agar semua pemasukkan yang berhubungan dengan administrasi RW, harus dimasukkan ke kas RW dan dimanfaatkan untuk kegiatan sosial setempat.

“Jika selama ini kita menjadi Ketua RW akan bisa mendapatkan honor untuk pemasukkan pribadi. Namun, saya tidak ingin yang seperti itu. Saya ingin agar pemasukkan-pemasukkan yang ada masuk ke kas RW untuk menjalankan sebuah kegiatan sosial yang bermanfaat untuk sesama.”

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh sosok lelaki kelahiran 9 Maret 1946 di Kudus ini adalah melakukan analisa terhadap permaslahan-permasalahan utama yang terjadi di lingkungannya. Dari analisa yang dilakukannya, beliau menemukan bahwa permasalahan pokok yang ada di lingkungannya adalah permasalahan tentang lingkungan hidup. Akhirnya, Beliau membagi permasalahan pokok di lingkungannya menjadi tiga, yakni: permasalahan banjir, penghijauan yang minim, serta permasalahan sampah.

Solusi

Menjawab permasalahan yang terjadi di lingkungannya tersebut, akhirnya Beliau merencanakan sebuah aksi di hijau di lingkungannya. Hal pertama yang beliau canagkan adalah membuat lubang-lubang biopori serta pengerukan selokan-selokan di lingkungan sekitar. Hal ini bertujuan untuk mencegah banjir di daerahnya. Topografi RW 10 yang lebih rendah dari RW sekitarnya menyebabkan air mengalir ke daerah Beliau saat hujan. Baginya, keberadaan 2200 biopori di lingkungannya serta di rumah-rumah warga, sangat membantu dalam mengurangi genangan air sekaligus berperan dalam menjaga siklus air sehingga air huja bisa terserap kembali masuk ke tanah.

Biopori

Selain membuat biopori, Beliau juga aktif melakukan penghijauan terutama pada lahan-lahan yang masih kosong di lingkungannya. Dalam mencari tanaman yang dipakai untuk penghijauan, Beliau dibantu dari pihak Dinas Pertanian. Usahanya ini ternyata tidak sia-sia. Dengan luas lahan penghijauan yang mencapai sekitar satu hektar ini, bisa dipastikan akan membuat siapapun merasa sejuk saat menapakkan kakinya di bilangan RW 10, Kelurahan Cipinang Muara ini

Berkaitan dengan masalah sampah, beliau memiliki cara tersendiri dalam penanggulangannya. Hal ini dikarenakan sampah dari warga begitu banyak, yakni sekitar 13-14 meter kubik per harinya, sedangkan kapasitas kontainer yang mengangkut sampah hanya berkisar pada 10-11 meter kubik per hari. Jika hal tersebut terus dibiarkan, maka volume sampah akan terus terakumulasi dan menyebabkan dampak yang tidak menyehatkan.

Pabrik Kompos

Akhirnya, beliau berinisiatif untuk membangun sebuah pabrik kompos di lingkungannya. Pabrik tersebut kini berada tidak jauh dari rumahnya, sekitar dua ratus meter dari rumah Beliau. Inisiatif ini berjalan pertama kali pada bulan Januari tahun 2005. Saat itu Beliau mendapatkan bantuan dana dari pihak kelurahan setempat, dan dengan bantuan dari kas RW yang jumlahnya lumayan banyak, akhirnya Bapak dari empat putra ini berhasil membangun sebuah hanggar untuk pabrik komposnya dengan menghabiskan dana sekitar 22 juta rupiah. Mesin-mesinnya Beliau dapatkan dari Dinas Kebersihan dan merupakan mesin-mesin lama yang kemudian diperbaiki.

Mesin Pembuat Kompos

Setelah proses pembangunan selesai, akhirnya pabrik tersebut bisa sukses beroperasi setiap hari hingga sekarang. Kompos-kompos yang dihasilkan pun dijual kembali untuk menutup biaya operasioanl pabrik setelah sebelumya pada satu tahun pertama dibagikan kepada warga sebagai bukti dari berjalannya pabrik kompos hasil kerja sama warga ini.

Dari aktivitas yang telah dilakukan oleh Beliau ini, banyak hasil yang telah diperoleh seperti: dijadikannya RW 10 ini sebagai RW percontohan penghijauan dan pemukiman biopori, menjadi langganan juara dalam lomba penghijauan antarlingkungan, serta menjadi tempat pengambilan gambar sebuah film lingkungan hidup. Sedangkan untuk Beliau sendiri adalah Beliau banyak menjadi pembiacara dalam seminar-seminar serta penyuluhan dalam rangka menggalakkan aktivitas penghijauan di lingkungan perumahan.

Lahan pekerjaan

Kegiatan yang dilakukan oleh beliau ini selain diperuntukkan untuk penghijauan liingkungan, ternyata juga memiliki dampak positif sampingan berupa pembukaan lapangan kerja bagi beberapa orang.

Saat ini di lingkungannya ada sekitar 49 orang yang bekerja dengan perincian sebagai berikut: 25 orang di bidang keamanan, 15 orang di bagian kebersihan, 4 orang sebagai pengurus taman, 3 orang untuk mengeruk selokan, dan 2 orang khusus untuk mengelola pabrik kompos.

Kompos Hasil Produksi

Selain pekerja-pekerja yang memang khusus dipekerjakan untuk mengurus lingkungan, masih ada pula para pemulung yang aktif mengambil sampah-sampah plastik setiap harinya. Pernah suatu waktu terpikir oleh Beliau untuk juga membangun sebuah pabrik penghancur sampah plastik agar bisa didaur ulang. Namun uniknya, Beliau mengurungkan niat yang telah ada di pikirannya selama dua tahun itu hanya karena melihat para pemulung yang selalu ada di pabrik kompos lingkungannya. Kata Beliau, “Jika saya membuat pabrik penghancur sampah plastik itu, maka saya juga akan menghancurkan kehidupan para pemulung itu. Jadi, saya biarkan para pemulung yang mengambil sampah plastik dari warga.”

Subsidi silang dan kerja sama

Kesuksesan aksi hijau yang dilakukan oleh Beliau tidak lepas dari kerja sama yang berhasil dibangun diantara warganya. Warga disekitar sangat mendukung aksi hijau di lingkungan mereka. Saat ditanya perihal apakah ada warga yang tidak setuju atau merasa keberatan dengan aksinya tersebut, Beliau menjawab bahwa seluruh warga sangat mendukung karena mereka sadar ini untuk kepentingan bersama, hanya saja yang menjadi kendala adalah banyak warga yang tidak memisahkan antara sampah organik dan nonorganik, sehingga sulit untuk memilah-milah mana yang akan dimasukkan dalam pabrik kompos.

Berkaitan dengan biaya operasional, Beliau memiliki cara tersendiri yakni melalui subsidi silang, selain dengan iuran resmi untuk kas RW. Subsidi silang disini dilakukan untuk membiayai operasional pabrik kompos. Cara yang dilakukan adalah dengan menarik kabel listrik dari lapangan tenis di lingkungannya hingga ke pabrik kompos. Listrik ini dimanfaatkan untuk menjalankan mesin-mesin pabrik. Selanjutnya, bagi yang menyewa lapangan tenis, diwajibkan untuk membayar biaya listrik tambahan yang digunakan untuk operasional pabrik kompos tersebut.

Pengorbanan kunci penting

Di akhir kegiatan wawancara dengan Bapak Saksono Suhodo, penulis menanyakan apa pesan terakhir yang hendak disampaikan oleh Beliau kepada warga masyarakat sekitar agar bisa mengikuti jejaknya dalam menjalankan aktivitas hijau agar sukses. Beliau mengatakan hal demikian:

“Hidup ini untuk apa sih? Hidup itu kan cuma untuk menunggu mati. Kalau kita mati, apa yang kita bawa? Ya, segala aktivitas dan kegiatan sehari-hari kita di dunia, yaitu kehidupan kita yang legal dan yang bisa dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Apalagi selain kegiatan yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain? Seringkali saya menjadi pembicara dan penyuluh kegiatan hijau di lingkungan orang lain. Namun, ketika saya kembali kesana, tidak ada perubahan. Mengapa? Ya, karena manusianya itu tidak mau berkorban. Menjalankan kegiatan itu kan membutuhkan uang, dan jika uang yang ada hanya untuk masuk kas pribadi buat apa? Penyuluhan saya tidak berguna. Yang menjadi kunci itu ya pengorbanan. Mau atau tidak kita berkorban untuk melakukan perubahan demi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain?”

Bagi Beliau, kunci penting segala perubahan ada pada pengorbanan. Sejauh kita mau berkorban, maka kita akan bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Maka dari itu, pertanyaan reflektif yang akan terlontar adalah: apakah kita sebagai manusia penghuni bumi ini sudah mau berkorban untuk sesuatu yang lebih bermanfaat bagi orang lain, yakni mempertahankan eksistensi umat manusia dengan menjaga bumi?

Langkah Bapak Saksono Suhodo dalam menghijaukan lingkungannya mungkin hanyalah sebuah langkah kecil. Namun bayangkan apa jadinya jika semua ketua RW mau mengadopsi prinsip Bapak Saksono Suhodo ini? Akumulasi dari langkah-langkah kecil yang berdampak pada sebuah perubahan untuk bumi yang lebih baik.

Penulis dan Bapak Saksono Suhodo

Foto-foto oleh : Muthia Astari

Advertisements

Agama: Sesuatu yang Tidak Benar dan Tidak Salah

Apakah ada kebenaran di dalam agama, sesuatu yang telah menjadi pedoman bagi hampir seluruh umat manusia selama sekitar ratusan hingga ribuan tahun? Masing-masing agama memang mengklaim bahwa ada kebenaran di dalam dirinya; entah itu melalui konsep Tuhan yang dikonsepsikan melalui dogma maupun melalui Kita Suci agama masing-masing ataupun melalui paham-paham yang mereka yakini sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah betul bahwa agama itu memang betul-betul mengandung sebuah kebenaran?

Kebenaran diyakini sebagai segala sesuatu yang tidak lagi bisa dibantah, mengandung sesuatu yang absolut dan dapat diterima oleh semua kalangan. Berangkat dari pernyataan ini, kita akan melihat apakah agama itu bisa disebut mengandung sebuah kebenaran yang absolut atau tidak.

Hal utama yang perlu menjadi perhatian adalah adanya eksistensi dari kalangan atheis yang menyangkal klaim-klaim kebenaran yang ada dalam agama. Kalangan atheis ini muncul sebagai kalangan yang menganggap bahwa paham tentang agama adalah sebuah paham yang irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagi mereka, agama merupakan sebuah kebodohan dan selanjutnya eksistensi Tuhan pun patut untuk dipertanyakan kusahihannya.

Jean-Paul Sartre adalah tokoh atheis yang mempertanyakan apakah betul Tuhan yang dipercayai oleh agama-agama itu harus ada atau tidak. Baginya, keberadaan Tuhan hanya akan menyangkal eksistensi manusia. Manusia yang seharusnya berdiri sebagai subjek, akan menjadi objek ketika Tuhan ada. Hal ini disebabkan karena manusia nampak sangat ebrgantung pada Tuhan dan segala yang dilakukan oleh manusia, seperti sudah diatur oleh Tuhan. Manusia tidak lagi bebas terhadap dirinya sendiri. Ada yang mengontrol dirinya dibelakang, yakni Tuhan itu sendiri.

Pandamgan dari para kaum atheis ini mengindikasikan satu hal penting, yakni kebenaran yang diklaim oleh agama ternyata tidak bisa diterima oleh semua pihak. Seandainya memang agama betul-betul memiliki sebuah kebenaran yang absolut, maka tidak harus ada kelompok atheis di dunia ini yang meragukan kebenaran agama.

Namun, selain melihat dari sudut pandang atheis, kita perlu melihat dari sudut pandang para theis. Para theis beranggapan bahwa eksistensi Tuhan tidak bisa disangkal sama sekali dan hanya melalui agama saja, kita bisa menemukan suatu kebenaran sejati, yakni kebenaran yang bersumber dari Tuhan itu sendiri.

Dari sini nampak jelas bahwa agama bagi para kalangan theis mengandung sebuah unsur kebenaran absolut yang harusnya tidak boleh disangkal oleh semua pihak. Di dalam agama terdapat sebuah kebenaran absolut, dan jika kita menyalahkan apa yang sudah benar, maka kita sendiri pun akan berada pada pihak yang salah. Bagi para theis, pandangan kaum atheis adalah sebuah kesalahan besar.

Tidak benar dan tidak salah

Dari pemaparan di atas, nampak jelas bahwa terdapat dua pandangan yang saling berkontradiksi. Satu dari kaum atheis dan satu lagi dari kaum theis. Masing-masing berada pada pendiriannya dengan klaimnya terhadap kebenaran yang terkandung dalam sebuah agama.

Untuk menentukan apakah ada kebenaran dalam agama, kita tidak bisa dengan cepat berdiri pada kelompok atheis ataupun pada kelompok theis. Jika kita berdiri pada salah satu di belakang mereka, yang akan terjadi adalah sudut pandang yang tendensius dan akhirnya pencarian terhadap kebenaran di dalam agama tidak bisa ditemukan. Lagipula, setiap manusia adalah subjek, sehingga sudut pandang mereka terhadap segala sesuatu harus selalu dihargai dan tidak bsia diabaikan. Mengabaikan sudut pandang dari salah satu pihak, berarti juga mengabaikan eksistensi manusia itu sebagai subjek.

Menghindari hal tersebut, maka kita harus berdiri di tengah-tengah, yakni tidak berada di belakang kelompok atheis maupun kelompok theis. Selanjutnya, jika kita sudah berada di tengah, kita bisa menentukan apakah ada kebenaran di dalam agama.

Jika kita menelususri dua sudut pandang yang berkontradiksi ini, maka kita akan mendapatkan suatu fakta yang menarik, yakni bahwa agama itu tidak benar dan juga tidak salah. Agama itu tidak benar sejauh mereka ada pada sudut pandang para atheis dan tidak salah selama kita melihat dari sudut pandang theis. Dua sudut pandang ini saling bertolak belakang, sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan penggabungan diantara keduanya.

Jika kita memaksakan menemukan sebuah titik temu perihal persepsi kebenaran di dalam agama yang bisa mengakomodir sudut pandang dari masing-masing pihak, maka hanya bisa disimpulkan demikian: bahwa agama itu hanya akan benar sejauh mereka tidak memperdayakan umatnya, melainkan memberdayakan umatnya, agama itu benar sejauh ia bisa peka terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya dan tidak hanya sibuk berkutat dengan doktrin dan dogmanya masing-masing. Memang, sepintas hal ini nampak sangat bersifat duniawi. Namun, jika memang agama diciptakan oleh Tuhan yang sangat baik –sebenarnya tidak pantas menggunakan kata baik karena sangat lebih dari sekedar baik- maka agama juga harus bisa memancarkan kebaikan itu untuk semua orang dan hal ini tentunya tidak berkontradiksi dengan pandangan kaum atheis.